August 27, 2008
August 19, 2008
August 7, 2008
July 31, 2008
Menyusun Skripsi Minor? …Siapa takut!

Oleh Drs. Ratma Budi Priatna
Menulis skripsi minor sering kali menjadi mimpi buruk bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa yang tidak terbiasa menuangkan gagasan dalam bahasa tulis. Menyampaikan isi pikiran melalui bahasa tulis memang memerlukan keahlian tersendiri. Hal ini dapat dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir, itu pun bila mereka sering mengasah keterampilan menulisnya hingga menjadi terbiasa. Dengan sering mengasah dengan cara menuangkan hasil berpikirnya ke dalam bahasa tulis, maka kita akan terbiasa pula mengemukakan pendapat secara sistematis.
Salah satu kendala yang dihadapi para mahasiswa dalam proses penyusunan tugas akhir berupa skripsi minor adalah sulitnya menentukan topik bahasan. Oleh karena itu, saran saya pilihlah topik bahasan yang sesuai dengan minat dan kemampuan anda. Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk dipikirkan, apakah data-data yang dibutuhkan bisa dengan mudah diperoleh? Hal itu benar-benar harus dipikirkan agar penyusunan skripsi minor tersebut tidak menjadi beban berat bagi anda. Bila topik bahasan skripsi sesuai dengan minat dan kemampuan anda, bisa dipastikan dalam proses pengerjaannya akan disertai dengan semangat dalam menggali setiap informasi yang dibutuhkan.
Untuk mengetahui topik bahasan skripsi yang kita minati, tak terlalu sulit. Tanya diri anda sendiri, apa alasannya dulu anda memilih program studi yang sekarang sedang anda geluti ini? Renungkan, apakah anda benar-benar serius menggeluti bidang yang anda pilih ini? Lihat dan kaji kembali tugas-tugas yang telah anda kerjakan dari setiap mata kuliah yang telah diikuti selama ini.
Tapi faktanya, topik bahasan skripsi yang sesuai minat dan kemampuan kita pun tidak menjamin terlepas dari permasalahan. Sering kali para mahasiswa menggarap serta menguraikan topik bahasannya terlalu luas atau sebaliknya, terlalu sempit. Untuk mengatasi masalah ini, buatlah pertanyaan-pertanyaan tentang semua hal yang akan kita uraikan pada skripsi kita. Setelah membuat daftar pertanyaan tentang bidang garapan kita itu, lalu diskusikan dengan dosen pembimbing. Jangan takut dan segan bertanya kepada para dosen pembimbing, karena memang tugas merekalah membimbing dan mengarahkan para mahasiswanya dalam menulis skripsi minor tersebut, sehingga tugas akhir mereka ini diselesaikan dengan baik dan benar.
Di dalam skripsi minor itu biasanya dibahas pokok-pokok pikiran umum yang dikemukakan oleh mereka yang berkompeten di bidangnya. Kemudian dianalisis oleh penyusun skripsi berdasarkan kasus yang dihadapi dalam kehidupan nyata di mana mahasiswa pernah melaksanakan PKL pada semester V/ IV. Untuk menyempurnakan pekerjaan anda, perbanyaklah membaca buku-buku atau pun jurnal ilmiah sebagai bahan referensi. Tulisan atau artikel yang terdapat dalam buku atau jurnal ilmiah bisa dijadikan ide dalam proses penyelesaian karya tulis anda.
Hal terpenting yang harus diingat adalah, jangan berpikir bahwa skripsi minor yang anda tulis itu harus memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. Dalam hal ini anda tidak diwajibkan menemukan suatu temuan ilmiah yang spektakuler. Skripsi minor anda hanya merupakan kajian dari pengetahuan yang telah didapat sebelumnya.
Kiat terakhir, bila masih tidak yakin dengan dengan topik bahasan yang sudah anda persiapkan, sah-sah saja bila anda melihat-lihat skripsi minor karya orang lain di perpustakaan kampus untuk bahan rujukan. Yang harus diingat, janganlah skripsi minor karya orang lain itu dicontek habis-habisan. Anda nanti disebut plagiator jadinya. Dan lulus kuliah dengan usaha diri sendiri yang maksimal akan lebih menyenangkan. ***
July 29, 2008
Gaya Hidup Orang Terkaya di Dunia

Kabar dari Sahabat
Di halaman terakhir majalah Reader’s Digest saya cukup surprise menemukan tulisan mengenai gaya hidup sederhana orang terkaya nomor 2 di dunia, Warren Buffet. Berikut ini adalah kutipannya, berdasarakan wawancara dengan televisi CNBC:
1. Warren membeli saham pertama kali pada usia 11 tahun, Dan ia menyesal tidak membeli saham saat usianya lebih muda lagi.
2. Ia membeli sebuah ladang kecil dari uang hasil menjadi loper koran, saat usianya baru 14 tahun.
3. Ia tidak mempunyai sopir dan satpam. Ia pun selalu bebergian menumpang pesawat komersial, meskipun memiliki perusahaan pesawat jet pribadi terbesar.
4.Warren tidak mememiliki ponsel atau pun komputer di mejanya, dan tidak pernah bergaul dengan kalangan jetset. Setibanya di rumah, ia biasanya membuat pop corn dan menonton teve.
5. Perusahaannya, Berkshire Hathaway, yang ia punyai sendiri berjumlah 63 perusahaan. Dia hanya menulis satu surat kepada para pimpinan (CEO) perusahaan-perusahaannya tersebut, memberikannya “goal company” tahunan. Dia tidak pernah mengadakan meeting atau memanggil mereka dalam agenda rutin. Dia hanya memberikan ke CEO-CEO-nya dua aturan yaitu:
Aturan (1). Do not lose any of your share holder’s money
Aturan (2). Do not forget rule (1).
6. Rumah kecil dengan tiga tempat tidur tanpa pagar - yang dibelinya sejak 50 tahun lalu di tengah kota Omaha - adalah “istana” bagi miliarder gaek ini.
Saya juga pernah menonton wawancaranya di CNBC. Saya lihat Warren menyetir sendiri mobilnya ketika mendampingi wartawan. Dia pun tinggal di Omaha, Nebraska, sebuah kota kecil, bukan kota besar.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sam Walton. Di buku biografinya, saya membaca gaya hidupnya kurang lebih serupa dengan Warren. Sam tidak pernah bepergian dengan pesawat kelas bisnis, selalu kelas ekonomi. Menginap di hotel pun selalu memilih kamar yang bisa disharing berdua. Mobilnya pun cuma truk pick up yang digunakannya selama berpuluh tahun. Dia pun tinggal Dan berkantor di kota kecil, Bentonville. Sam Walton Dan keluarganya adalah 10 besar orang terkaya di dunia.
Nasehat Warren Buffet ke orang-orang muda sebagai berikut: “Jauhi kartu kredit dan berinvestasilah dengan sabar untuk dirimu dan keluargamu kelak serta ingatlah hal-hal ini:”
A. Uang tidak membuat manusia, tetapi manusialah yang membuat uang.
B. Hiduplah sesederhana mungkin Dan janganlah membuat kamu sulit untuk hidup.
C. Jangan lakukan apa yang orang lain katakan, cukup dengarkanlah dan lakukanlah jika menurut hati nuranimu baik.
D. Jangan selalu mengikuti mode atau nama terkenal; pakailah hal-hal yang membuat kamu nyaman.
E. Jangan hamburkan uangmu untuk hal-hal yang tidak begitu diperlukan; pakailah untuk hal-hal yang memang diperlukan.
F. Jangan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi belajarlah.
G. Buatlah hidupmu berguna untuk orang lain atau bantulah orang lain jika kamu mampu.
H. Jika telah mengikuti semua saran di atas, mengapa harus merubah aturan hidup kamu dengan cara yang lain.
Demikianlah ujar pemilik kekayaan senilai 52 miliar dollar AS itu, yang 80 persennya baru saja disumbangkan untuk kemanusiaan.
PS:
Warren Buffet mempunyai tipikal profil “Accumulator”. Dia suka mengumpulkan aset, menunggu dengan sabar bahkan mungkin sampai bertahun-tahun hingga harganya tinggi dan menjualnya kembali atau mendapatkan cashflow dari aset itu.
June 27, 2008
Guru Bahasa Sudah Seharusnya Menguasai Teknik Menulis

Oleh Popon Saadah
Ketika seseorang menyadari bahwa dia adalah seorang guru bahasa, pada saat itu harus sadar pula akan kewajibannya menguasai empat aspek ketrampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai oleh para guru bahasa, baik guru bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa internasional, maupun bahasa asing lainnya.
Seorang guru bahasa harus terampil menyimak semua yang dilisankan orang di luar dirinya, dan tahu ilmunya. Guru bahasa harus terampil berbicara di depan umum, di dalam forum, maupun bercakap-cakap dengan lawan bicaranya, karena faham ilmunya. Guru bahasa harus terampil membaca segala macam yang bisa dibaca, karena menguasai ilmunya. Guru bahasa harus terampil menulis, dalam hal ini menulis kreatif, juga dengan ilmunya.
Menulis kreatif adalah level paling sulit dari keempat aspek tersebut di atas, dan seorang guru bahasa wajib menguasainya. Idealnya seorang guru bahasa sudah bukan waktunya menghasilkan tulisan alakadarnya dan sekehendak hatinya sendiri dengan mengabaikan aturan yang berlaku. Sejatinya dia harus bisa melampaui karya-karya anak didiknya, dengan menghasilkan karya yang baik isi maupun bentuknya digarap dengan serius. Oleh karena itu seorang guru bahasa wajib menguasai teknik menulis kreatif.
Kegiatan yang sudah seharusnya menjadi kebiasaan guru bahasa adalah:
1. Tak kenal lelah mencari dan membaca referensi yang berhubungan dengan teori menulis. Dengan mempelajari teori menulis dia akan menghasilkan tulisan yang sesuai dengan rambu-rambunya serta terhindar dari berbagai macam kesalahan berbahasa.
Beruntung, sekarang buku-buku yang mengupas tentang bagaimana caranya agar kita menjadi penulis handal sangat berlimpah. Mulai dari buku yang tipis dan simpel isinya, sampai kepada buku yang isinya serba lengkap, saya kira tersedia di toko-toko buku. Tak ada salahnya, bahkan mungkin akan lebih baik kita berpedoman pada buku-buku tersebut sebagai panduan, agar tulisan kita sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama.
2. Membaca karya-karya bermutu, baik karya sastra, esay, maupun artikel. Dengan mempelajari dan mengapresiasi tulisan-tulisan yang berkualitas, sama artinya dengan mengasah keterampilan menulis kita.
3. Latihan menuangkan gagasan sesering mungkin, sehingga pikiran dan tangan kita akan terlatih secara otomatis dalam menuliskan ide-ide yang ingin segera kita tulis.
Bagaimana jadinya bila seorang guru bahasa tidak paham tentang keempat aspek berbahasa ini? Bagaimana jadinya bila seorang guru bahasa sama sekali tak tahu seluk beluk aturan menulis kreatif? Bagaimana bisa mengoreksi pekerjaan dan hasil karya siswa bila karyanya sendiri masih mentah dan terlalu banyak yang harus dikoreksi? Bagaimana bisa meningkatkan mutu dan potensi berbahasa para siswanya bila dia sendiri malas dan tidak berminat menggeluti bidang yang seharusnya dia kuasai?
Jangan berharap terlalu banyak pada anak didik, bila keadaan gurunya masih berkutat pada permasalahan yang sudah diuraikan di atas.
June 12, 2008
May 25, 2008
Touring Pertama
![]()
Oleh Windusari Sumirat
Hampir setiap hari Minggu, suami dan anak selalu berangkat bersama menjelajah pelosok kota dan kabupaten dengan bersepeda. Mereka katakan kegiatan itu sebagai “touring murah, sehat, dan ceria di hari Minggu”. Murah karena tidak mengeluarkan biaya transport, sehat karena sekalian berolah raga, ceria karena mereka melakukan kegiatannya bener-bener enjoy…saatpulang sehabis touring itu pasti ada cerita menarik dari daerah yang dilewati.
Sudah lama aku ingin mengikuti kegiatan yang dilakukan suami dan anak pada hari Minggu itu, namun apa daya….saya tidak bisa naik sepeda sejak kecil. Pernah sih ada saudara dulu yang memiliki beberapa sepeda, tapi jangankan nyoba…pegang dikit aja dimarahi…ma’lum aku dari keluarga yang tidak mampu beli sepeda. (more…)
April 22, 2008
Not Me, Boss!!

Cerita kiriman dari seorang teman.
Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua NewGuinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidakpernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.
Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.
Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.
Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!
Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut “Not me, Boss! Selama
ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!”
Moral kisah :
Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
March 10, 2008
Perlukah Belajar Semalam Suntuk?

Oleh Drs. Ratma Budi Priatna
Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Maret. Semua perhatian masyarakat kampus akan tertuju pada Ujian Akhir Semester dan Her. Bila diperhatikan dengan seksama, masih banyak mahasiswa yang tenang-tenang saja menjelang UAS tersebut. Terlihat dari cara pengerjaan tugas-tugas, yang seharusnya dikerjakan secara mandiri di rumah, mereka malah mengerjakannya di selasar kampus dengan cara copy paste. Padahal harapan para pemberi tugas, bila mahasiswa tidak menguasai materi dan soal-soal latihan, di antara mereka akan terjadi dialog dan diskusi tentang tugas tersebut, sehingga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya.
Ketika masuk ke sesi ujian, banyak mahasiswa yang belajar mati-matian semalam suntuk. Semua itu demi memadatkan isi kepalanya dengan berbagai materi perkuliahan dalam waktu singkat. Usaha semacam ini biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang tidak berpikir panjang ke masa depan. Tidak mempunyai rancangan, mau menjadi apa kelak setelah dia lulus dari tempat di mana dia menimba ilmu selama ini. Mahasiswa seperti itu seringkali menunda waktu belajarnya sampai menjelang waktu akhir menghadapi ujian. Mereka beranggapan bahwa usaha tersebut dapat mengganti dan melunasi waktu yang sudah berlalu dan terbuang begitu saja. Mereka beranggapan pula bahwa persiapan itu sudah cukup untuk menghadapi ujian, tak berbeda dengan rekan-rekannya yang sudah jauh-jauh hari mengadakan persiapan. Dan tidak menutup kemungkinan, nilanya lebih besar dari nilai rekan-rekannya yang sebelumnya telah mengadakan persiapan. Hal itu bisa merupakan sebuah kebetulan dan keberuntungan.
Melihat faktor keberuntungan seperti itu, haruskah kita mengikuti jejak langkah mereka dalam belajar? Saya pikir jangan meniru cara seperti itu. Jangan sekali-kali menunda-nunda waktu belajar untuk menguasai materi perkuliahan. Belajar dengan cara ngebut semalam suntuk harus dihindari. Tapi bukan berarti para mahasiswa harus menjadi kutu buku setiap hari, sehingga bisa mengakibatkan kita berkacamata tebal. Idealnya mahasiswa juga harus bisa membagi waktu untuk melakukan kegiatan lain yang disukainya sesuai dengan dunia mudanya. Yang penting di sini adalah persiapan dan pengaturan waktu yang baik, sehingga hidup menjadi teratur, perkuliahan bisa dikuasai dengan baik, serta kita tetap bisa menikmati kegiatan-kegiatan lain yang kita sukai.
