Tugas Berat Seorang Guru Bahasa
Oleh Popon Saadah

Tidak bisa dibantah bahwa profesi guru adalah profesi yang menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Apalagi ketika disadari bahwa keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon, yang tidak mungkin bisa digantikan oleh komponen mana pun dalam kehidupan bangsa di jaman apa pun. Apalagi di era teknologi modern seperti sekarang ini, peran guru, apa pun bidangnya semakin dibutuhkan, dalam rangka membimbing peserta didik menghadapi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, serta mengaplikasikan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, yang semua itu bertujuan untuk memanusiakan manusia.
Jika ditinjau dari profesinya saja sudah sangat penting, maka masalah keahlian atau spesialisasi bidang keilmuan yang disandang guru pun tak kalah pentingnya. Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini adalah keahlian yang sejatinya dimiliki oleh seorang guru bahasa, baik guru bahasa asing, bahasa nasional, maupun bahasa daerah.
Mengingat bahasa adalah alat komunikasi manusia yang sangat vital, digunakan secara intens dan kontinyu, serta berubah dari waktu ke waktu, bidang keahlian seorang guru bahasa sangat aplikatif. Oleh karena itu, seorang guru bahasa idealnya memahami dan menguasai bidangnya secara menyeluruh. Dan hal tersebut merupakan tugas yang berat, karena memerlukan faktor-faktor yang kesemuanya terdapat dalam diri dan kepribadian seorang guru bahasa tersebut, seperti kesadaran akan fungsi dan tanggung jawab terhadap profesinya, idealisme, spirit, visi dan misi, serta tujuan yang ditargetkan.
Karena ketrampilan berbahasa seseorang itu meliputi menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing), seyogyanya guru bahasa memiliki bekal keilmuan dan kemampuan dalam hal keempat aspek tersebut. Dalam hal menyimak dan membaca barangkali tidak terlalu sulit, karena kedua aspek itu termasuk ketrampilan berbahasa pasif dan reseptif. Tetapi mengenai aspek berbicara dan menulis sebagai ketrampilan berbahasa yang aktif, seorang guru bahasa memerlukan kesiapan khusus berupa pengetahuan tentang seluk beluk berbicara dan menulis serta latihan dan melakukan kegiatan tersebut secara terus menerus.
Namun demikian, dalam hal menyimak, sejatinya guru bahasa adalah ahlinya. Keahlian dalam hal menyimak, pengertiannya bisa sangat luas. Bisa berarti ahli dalam menyimak keluhan para siswa dalam proses belajar mengajar, ahli dalam menyimak berbagai informasi keilmuan, ahli dalam menyimak berbagai peristiwa yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.
Bagaimana dengan aspek berbicara? Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda terdapat standar kompetensi yang harus dicapai siswa berupa terampil berpidato. Diharapkan paling tidak siswa mampu berpidato di dalam kelas, di depan teman-temannya. Model pertama yang mereka tiru tentu saja gurunya sendiri. Dengan demikian seorang guru bahasa tidak boleh tidak harus menampilkan diri sebagai pembicara yang baik atau orator, baik di dalam kelas, di luar kelas, di berbagai forum, maupun di berbagai kesempatan, demi menjadi model ideal bagi para muridnya.
Dalam aspek membaca, apalagi. Sudah menjadi satu keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa bahan bacaan, literatur, buku-buku, serta berbagai jenis informasi adalah santapan guru setiap hari. Membaca adalah kegemaran dan kegiatan rutinnya, demi tercapainya keberhasilan pengajaran bahasa dan apresiasi sastra, khususnya di Indonesia
Dalam hal menulis pun demikian. Bagaimana seorang siswa akan tertarik dan akhirnya terampil menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, jika gurunya saja belum pernah melaksanakan hal yang ia ajarkan. Bagaimana pengajaran menulis di sekolah akan berhasil bila gurunya saja tidak berminat dalam dunia karang mengarang, sehingga dirinya tidak pernah memiliki pengalaman menyenangkan pada saat ketika dia berhasil membuat satu karya pun dalam bentuk tulisan.
Masalah yang dihadapi oleh pengajaran bahasa akan bertambah tatkala guru bahasa tidak memiliki kesadaran akan pentingnya kapabilitas dirinya sebagai panutan bagi siswa-siswanya. Dan masalah-masalah pengajaran bahasa dan sastra yang selama ini masih sering muncul dan sering dikeluhkan oleh para pengamat pendidikan insya Allah akan teratasi, apabila setiap guru bahasa memiliki kesadaran akan potensi dirinya, serta memiliki kesadaran akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.***

wah,,,bagus sekali,,,saya sengng dapat memnemukan tulisan ini karena dengan tulisan ini, saya dapat menambah waasan saya tentang sosok seorang guru. tks ya bu,,, mudah2an tulisannya dapat bermanfaat bagi kita semua. amin.
Comment by misda — December 21, 2008 @ 8:15 am
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya pada blog ini Adik Misda. Salam kenal!
Comment by nice_ceu — December 22, 2008 @ 12:25 am