Majalah dan Surat Kabar sebagai Media Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMP
Oleh Popon Saadah
Kualitas pengajaran apresiasi sastra di berbagai lembaga pendidikan formal di setiap jenjang pendidikan dewasa ini masih banyak dikeluhkan oleh para pemerhati dan peminat sastra di Indonesia. Mereka menilai bahwa pengajaran sastra di sekolah-sekolah tidak lebih hanya sebagai pelengkap pengajaran bahasa. Diperparah lagi dengan adanya anggapan umum masyarakat Indonesia bahwa sastra dan mata pelajaran sastra itu tidak lebih penting dari mata pelajaran bidang eksakta.
Tentu saja fenomena di atas tidak lepas dari berbagai faktor yang saling mempengaruhi dan berkaitan. Hal-hal yang mempengaruhi serta menyebabkan pengajaran apresiasi sastra di sekolah-sekolah formal, terutama di tingkat SMP tidak berkembang sesuai yang diharapkan, di antaranya:
a. Faktor lingkungan keluarga siswa.
Lingkungan keluarga besar sekali pengaruhnya terhadap tumbuh kembangnya mental dan fisik seseorang. Tidak terbiasanya seorang anak didik membaca atau mendengarkan cerita (mengapresiasi) karya sastra di lingkungan keluarga membawa pengaruh buruk terhadap minatnya pada pengajaran apresiasi sastra di sekolah. Tidak adanya bimbingan dari orang tua kepada anak dalam memilih hiburan, karya seni, dan karya sastra yang baik dalam bentuk audio visual juga merupakan faktor lain yang berpengaruh negatif pada pengajaran sastra.
b. Faktor guru.
Gurulah yang menjadi kunci keberhasilan pengajaran apresiasi sastra. Tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak kendala yang justru timbul dari diri pribadi pengajarnya. Bagaimana mungkin keberhasilan pengajaran sastra bisa terwujud apabila seorang guru sastra tidak mempunyai hobby membaca serta tidak berminat terhadap sastra. Apa yang bisa diharapkan dari seorang guru sastra yang tidak menyadari pentingnya pengajaran apresiasi sastra di sekolah? Sempitnya wawasan guru sastra mengenai kesusastraan, serta metode pengajaran apresiasi sastra yang tidak menarik dan membosankan turut mempersulit tercapainya tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu perlu dipikirkan solusinya agar masalah pengajaran sastra di sekolah tidak berlarut-larut. Salah satu usaha ke arah itu adalah dengan penyediaan media pembelajaran sastra, yang diharapkan bisa membangkitkan gairah anak didik kita dalam hal membaca dan mengapresiasi sastra.
Dari berbagai bentuk media pembelajaran yang telah tersedia dewasa ini, majalah dan surat kabar adalah salah satu alternatif pilihan untuk mata pelajaran apresiasi sastra. Menurut hemat penulis, dengan bervariasinya format dan cover media cetak, akan dapat membangkitkan minat baca dan belajar para siswa yang pada umumnya pada tahap usia seperti mereka mempunyai rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Dalam hal ini peran guru sebagai mediator dan fasilitator sangatlah penting dan dominan, memperkenalkan dan mempromosikan media cetak tersebut kepada siswa-siswanya, sebagai langkah pertama menuju proses pengajaran apresiasi sastra. Dengan menggunakan majalah dan surat kabar sebagai media dan sumber belajar, proses pencapaian hasil dan pencapaian tujuan pengajararan apresiasi sastra diharapkan akan lebih efektif dan efisien.
Pengertian Media
Seberapa pentingkah fungsi media untuk pendidikan, dalam hal ini untuk pengajaran sastra? Sebelum berbicara lebih jauh mengenai media, kiranya perlu dideskripsikan pengertian dari media itu sendiri. Kata media berasal dari bahasa Latin, bentuk jamak dari kata medium. Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran), Djamarah, dkk, 2002: 136-137). Sedangkan Usman (2001: 32) mendefinisikan bahwa alat peraga pengajaran, teaching aids, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa.
Dari kedua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah alat atau seperangkat alat yang digunakan untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada anak didik demi tercapainya suatu tujuan pembelajaran.
Macam-macam media
Djamarah dkk. (2002: 140) membagi jenis media menjadi tiga, 1) media auditif, 2) media visual, dan 3) media audio visual. Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, dan piringan hitam. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan, seperti gambar, gambar dalam film strip (rangkaian film), slides, foto, dan lukisan. Media audio visual menampilkan gambar atau symbol yang bergerak seperti film kartun, serta media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
Nilai atau manfaat media
Usman (2001: 31-32) merinci beberapa manfaat dari media, sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. Oleh karena itu mengurangi verbalisme (tahu istilah tapi tidak tahu artinya, tahu nama tapi tidak tahu bendanya);
b. Memperbesar perhatian siswa;
c. Membuat pengajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan;
d. Memberi pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan sendiri di kalangan para siswa;
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu;
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
Dasar pertimbangan dan penggunaan media
Masih menurut Usman, guru dituntut trampil memilih media pembelajaran yang akan digunakan dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Objektifitas;
b. Program pengajaran;
c. Situasi dan kondisi;
d. Kualitas teknik;
e. Keefektifan dan efisiensi penggunaan.
Sedangkan William Burton dalam Usman (2001: 32) memberikan petunjuk bahwa dalam memilih alat peraga yang akan digunakan hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut:
a. Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok;
b. Alat yang dipilih harus tepat, memadai, dan mudah digunakan;
c. Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa terlebih dahulu;
d. Penggunaan alat peraga disertai kelanjutannya seperti dilanjutkan dengan kegiatan diskusi, analisis, dan evaluasi;
e. Sesuai dengan batas kemampuan biaya.
Apabila kita mengkaji dasar-dasar petimbangan pemilihan dan penggunaan media tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa guru dituntut terampil dan kreatif dalam memilih media pembelajaran sastra. Tidak terpaku hanya mengandalkan buku sumber yang ada beserta materi-matei sastra yang tersedia seadanya. Tetapi guru juga tidak terjebak pada pemilihan media pembelajaran yang rumit, mahal, dan tidak praktis untuk digunakan, contohnya penggunaan media dengan teknologi internet. Dari segi daya liputnya yang begitu luas, internet diakui punya kelebihan-kelebihan. Namun bila ditinjau dari kondisi perkembangan kematangan jiwa siswa SMP dan kondisi sekolah yang belum menyediakan fasilitas internet misalnya, media tersebut tidak menjamin akan tercapainya keefektifan dan keefisienannya dalam mencapai tujuan yang telah ditargetkan.
Alasan Pemilihan Majalah dan Surat kabar Sebagai media Pembelajaran apresiasi sastra.
Dengan bervariasinya format serta isi majalah dan surat kabar yang menyediakan rubrik kesusastraan dalam setiap penerbitannya, guru dan siswa bisa lebih leluasa memilih bahan pembelajaran apresiasi sastra yang sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa, serta perbedaan individual dan kelompok. Pada umumnya majalah dan surat kabar, terutama yang terbit di Indonesia tidak terlalu tebal serta termasuk media yang sederhana, sehingga mudah digunakan. Tersedianya rubrik sastra untuk anak-anak dan remaja hampir di setiap media cetak, memudahkan para guru dalam merencanakan dan meramu materi pembelajaran apresiasi sastra sesuai dengan minat dan tingkat pemahaman siswa. Bila ditinjau dari segi biaya, majalah dan surat kabar relatif murah. Media cetak yang dipilih tidak terbatas pada media cetak terbitan terbaru, terbitan yang lama atau yang bekas pun dapat digunakan. Pemilihan materi pelajaran apresiasi sastra tidak berdasarkan pada titimangsa waktu dimuatnya karya sastra itu, tapi menitikberatkan pada kualitas atau nilai-nilai yang dikandung oleh karya sastra tersebut.
Beragamnya jilid (cover) pada majalah dalam setiap penerbitannya memungkinkan bangkitnya gairah para siswa untuk membaca atau mengapresiasi karya sastra yang terdapat di dalamnya. Karya sastra yang disertai ilustrasi yang sesuai dengan temanya masing-masing sebagaimana yang biasa terdapat dalam majalah dan surat kabar, akan lebih menarik para siswa untuk membaca atau mengapresiasi karya tersebut.***

Bagus. Apapun dapat digunakan sebagai media menarik bagi belajar siswa.
hubungi juga www.garduguru.blogspot.com
Comment by garduguru — April 12, 2008 @ 2:05 am
Dengan media cetak atau media apapun dapat digunakan sebagai media pembelajaran, sekarang yang kita hawatirkan adalah banyak guru yang dalam pembelajarannya kurang kreatif.
Comment by IMRON — September 15, 2008 @ 3:34 am
Barangkali hal itulah yang ikut menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia.
Comment by niceceu — September 15, 2008 @ 5:42 am
horeeee…..
thanks gue now cleaver
Comment by ririn — March 28, 2009 @ 12:42 am
mungkin semua tu hal yang menghambat pendidikan indonesia
Comment by erni — March 28, 2009 @ 12:45 am
vielen dank atas artikelnya karena dengan ini para guru yang membacanya akan tau bagaiman cara mengajar yang baik.
Comment by mala — March 28, 2009 @ 12:49 am
thanks geh atas penjelasannya bro
Comment by ROFI — March 28, 2009 @ 12:49 am
kereN bgt soB….yummmmmmmmmmi!!!!!!!
heeeeeeeeeeeee^_^
Comment by abank tari — March 31, 2009 @ 3:22 am
makasih buuuuu………… moga dapat nilai bgus smstr ne….heeeeee
Comment by MEILYZAR — March 31, 2009 @ 1:59 pm
bisa bahas tentang pemilihan dan penggunaan media pembelajaran secara umum?
Comment by intan — May 5, 2009 @ 1:54 am
tulisan anda bermanfaat bagi skripsi saya tentang penggunaan media tajuk rencana dalam meningkatkan keterampilan menulis
Comment by Anonymous — July 28, 2009 @ 9:13 am