Mari Berbicara Mengenai Pengawas Pendidikan
Oleh Popon Saadah
Tulisan yang bernada sumbang tentang keberadaan pengawas pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan sesekali muncul di salahsatu surat kabar harian di Jawa Barat. Yang mereka persoalkan adalah fungsi dan kinerja parapengawas pendidikan yang masih jauh dari harapan. Berdasarkan opini-opini mengenai hal itu, ijinkanlah penulis ikut serta mengomentari, mengkritisi, dan lebih jauhnya memberikan masukan kepada mereka demi sesuatu yang sudah menjadi tugas kita bersama, yaitu mencerdaskan bangsa. Uraian tentang pengalaman serta sumbang saran penulis untuk para pengawas,.seperti diuraikan di bawah ini.
Selama menjalani profesi guru selama belasan tahun, penulis sering kedatangan pengawas pendidikan dari Dinas Pendidikan Kota. Sesuai dengan jabatannya, mereka datang ke lembaga-lembaga pendidikan (sekolah) dengan tujuan mengawasi jalannya kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung. Bagaimana cara mereka menjalankan tugasnya tersebut? Tindakan-tindakan apa saja yang mereka lakukan ketika menjalankan kepengawasannya? Seberapa besarkah kontribusi mereka terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia?
Bila berkunjung ke sekolah dimana penulis terlibat sebagai staf pengajarnya, dari tahun ke tahun mereka selalu melaksanakan kunjungan dan program kerja yang itu-itu juga, hanya mengawasi cara bekerja paraguru serta (mungkin) menelisik kelemahan-kelemahan guru untuk kemudian dicatat dalam buku agenda mereka masing-masing. Dari tahun ke tahun yang mereka periksa dan mereka pertanyakan hanyalah masalah administrasi (kelengkapan guru mengajar). Sehingga memunculkan kesan bahwa dalam benak parapengawas kelengkapan administrasi guru adalah segalanya, tanpa semua itu, proses belajar mengajar tak bisa dilaksanakan. Kegiatan lainnya selain memeriksa administrasi guru, hampir tidak ada. Kecuali beberapa obrolan yang setiap kunjungannya hanya berputar-putar pada masalah klise, saran-saran yang terlalu teoritis dan tidak aplikatif mengenai kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan paparan di atas, kami para guru merasa sangsi, apakah keberadaan mereka ada kontribusinya secara langsung untuk peningkatan mutu pendidikan? Berbicara mengenai kontribusi mereka, jujur saja penulis katakan, sampai hari ini belum terasa! Sedangkan bila ditinjau dari fungsi dan jabatannya, tugas mereka sungguh mulya dan berat. Dan sesungguhnya bila tugas mulia mereka dilaksanakan secara profesional dan dijalankan sebagaimana mestinya, akan meciptakan iklim pendidikan yang kondusif dan progresif.
Idealnya figur seorang pengawas pendidikan di mata para guru adalah figur yang perfeksionis. Artinya sebagai penyandang gelar pengawas yang kedudukannya lebih tinggi dari pada guru, mereka punya kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan sehigga bisa dicontoh dan diserap ilmunya oleh para bawahannya yang tidak lain adalah para guru itu sendiri. Kewajiban-kewajiban tersebut di antaranya, membekali diri dengan keilmuan baik yang umum maupun tentang kependidikan, memahami betul situasi dan kondisi setiap sekolah yang menjadi lahan garapannya, memahami betul hakekat pendidikan yang sebenar-benarnya, sehingga bisa memberikan solusi-solusi yang bijak bila salah satu instansi pendidikan menghadapi permasalahan, memiliki kepribadian yang kharismatik tetapi familiar, memiliki pandangan dan jangkauan jauh ke depan tentang visi dan misi pendidikan demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Berat memang dan tidak gampang, tapi tidak mustahil untuk diwujudkan
Kenyataan yang sekarang kita saksikan, keberadaan mereka belum berpengaruh langsung kepada proses belajar mengajar. Kinerja mereka cenderung konvensional atau konservatif tidak inovatif. Oleh karena itu perlu adanya pembenahan dalam institusi ini. Jadikanlah kritikan di berbagai media massa terhadap etos kerja para pengawas pendidikan sebagai obat penawar yang menyembuhkan. Janganlah punya anggapan kritikan parapenulis di media massa sebagai fitnah atau satu upaya untuk menjatuhkan kewibawaan parapengawas pendidikan, karena mereka pun tidak semata-mata menulis, kecuali punya data-data dan pengalaman mereka masing-masing ketika berhadapan dengan para pengawas sebagai faktanya.
Selama ini insan-insan pendidik mempunyai kesan bahwa parapengawas pendidikan adalah pemungut upeti yang rutin ke sekolah-sekolah, memonitor kerja guru tanpa memberikan bimbingan kearah kemajuan, segala sarannya (terlepas dari baik dan tidak baik) mutlak dilaksanakan.
Andai para pengawas pendidikan adalah orang-orang yang mempunyai jiwa ksatria dan mau merubah diri ke arah yang lebih baik, serta ingin menghapus imej negatif tentang etos kerja mereka yang stagnan, mereka akan segera introspeksi dan berbenah diri, sehingga mampu melenyapkan berbagai tudingan yang cukup membuat telinga mereka memerah.
Kami, para guru mengharapkan sumbangan moral yang besar dari para pengawas berupa:
1. Gagasan-gagasan yang aktual tentang kependidikan.
2. Bimbingan yang berkelanjutan dan komprehensif.
3. Kerjasama dalam arti dialog dua arah dalam memecahkan permasalahan.
4. Kepribadian yang mengesankan sebagai mediator dan fasilitator para guru di lapangan.
5. Memiliki idealisme yang tinggi sehingga menjadi figur tauladan para pelaksana pendidikan.
Dalam era reformasi yang serba demokratis seperti sekarang ini, sah-sah saja guru memberikan masukan dan saran kepada atasannya. Semua itu demi perbaikan citra parapengawas sendiri. Jangan sampai terjadi lagi seorang pengawas tergagap-gagap menjawab ketika ditanya mengenai kurikulum baru oleh para guru sebagai bawahannya.

Aduuhhh bagus sekali tulisamu ini neng! Bravo lah, memang benar selama ini fungsi pengawas belum optimal bahkan terkesantidak jelas. Tapi ingat itu juga belum tentu kesalahan pengawasnya, mungkin saja manajemen pendidikan di negara kita yang masih carut marut
Sekedar usul nih, artikel ini kayaknya bagus dikirim ke media massa! Cobalah!
Comment by reni — November 3, 2006 @ 5:01 am
thanks for your opinion about my essay.
Comment by nice_ceu — November 3, 2006 @ 5:15 am