Aku, Rasa, dan Logika

November 12, 2006

Siswa dan Belajar Mandiri

Filed under: Forum Siswa

asyik konsentrasi

Oleh Popon Saadah

Seperti kita ketahui, di era globalisasi ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan melaju begitu cepatnya. Sungguh tidak sebanding dengan perkembangan cara dan metode belajar orang Indonesia, termasuk di dalamnya kita. Kenapa saya katakan tidak sebanding? Sebab pada umumnya etos kerja maupun semangat belajar orang Indonesia itu boleh dibilang sangat lemah atau kurang. Masyarakat Indonesia terkesan berkarakter lamban, santai, tidak ada semangat berkompetisi, dan cepat merasa puas dengan apa yang telah dicapai pada saat ini. Tentu saja hal ini bukan sebuah kebiasaan yang baik. Dan bila kebiasaan tersebut dibiarkan berlarut-larut bisa dipastikan bangsa kita akan semakin jauh tertinggal oleh bangsa lain. Oleh karena itu paradigma berpikir maupun karakter masyarakat Indonesia harus berubah. Dari kebiasaan berpikir dan berperilaku lamban dalam segala hal menjadi bersemangat dalam segala hal pula.
Bagaimana cara merubahnya? Mulailah mengadakan perubahan dari dalam diri kita sendiri. Jangan pernah menunggu perubahan kolektif yang entah kapan bisa terlaksana. Langkah pertama adalah dengan membulatkan tekad kita untuk membiasakan diri belajar mandiri, disamping belajar di sekolah. Apa yang dimaksud dengan belajar mandiri itu? Yaitu belajar mempelajari sesuatu yang sangat berguna untuk kemaslahatan hidup kita tanpa bimbingan orang lain. Maksudnya, kita (para siswa) harus punya inisiatif dan kemauan sendiri dalam mempelajari berbagai hal. Tidak menunggu tugas dan perintah dari bapak ibu guru. Karena pada hakekatnya guru bukanlah pemegang peran utama dalam pelaksanaan KBM (kegiatan belajar mengajar) di sekolah, tapi hanya sebagai motivator (pemberi motivasi) atau lebih jauhnya hanya sebagai pembimbing. Jika parasiswa hanya mengandalkan ilmu yang diberikan oleh para guru di sekolah, hasilnya tidak akan memuaskan, sebab pada kenyataannya pelaksanaan KBM penuh dengan keterbatasan, mulai dari terbatasnya waktu, sarana dan prasarana pendukung seperti media pembelajaran dan buku-buku penunjang, situasi dan kondisi lingkungan sekolah, dsb.
Dan solusi dari semua itu adalah belajar mandiri, dengan tetap menganggap penting pendidikan formal tentunya. Bagaimana caranya? Pertama, kenalilah diri kita sendiri lebih dalam. Carilah bakat apa yang tersembunyi dalam diri kita? Bidang apa yang sangat kita minati untuk dikembangkan? Bila seorang siswa cenderung menyenangi puisi, kembangkanlah minat tersebut dengan sering membaca puisi karya orang lain, terutama puisi-puisi yang bernilai sastra, dilanjutkan dengan menulis puisi karangan sendiri. Bila seorang siswa besar minatnya pada bidang komputer, bisa memulai dari sekarang membaca buku-buku tentang teknologi komputer, kemudian diteruskan dengan latihan mengaplikasikannya, sehingga sampai pada tingkat trampil atau bahkan mahir. Bila seorang siswa besar minatnya pada bidang sains, kenapa tidak dari sekarang mempelajari bidang tersebut lewat buku-buku atau surat kabar atas inisiatif sendiri? Kenapa di sini saya lebih menekankan pada spesialisasi bidang keilmuan? Untuk memudahkan tercapainya tujuan yang diharapkan, sebab seseorang akan mempunyai motivasi yang tinggi untuk mempelajari sesuatu bila sesuai dengan minatnya. Jarang sekali ditemukan pribadi yang memiliki berbagai kemampuan intelegensia dan berminat pada berbagai bidang ilmu. Kalau pun ada, barangkali siswa tersebut tergolong siswa genius atau lazim disebut anak berbakat.
Menurut pengamatan saya setiap saya masuk ke kelas, sebenarnya banyak siswa yang mempunyai potensi positif dalam dirinya. Ada yang berbakat dalam bidang menulis, baik menulis puisi, cerita pendek, maupun karangan yang berbentuk esay. Ada yang berbakat dalam berpidato, bidang kesenian, olahraga, dan tidak menutup kemungkinan banyak pula yang berbakat dalam bidang eksak. Saran saya untuk parasiswa yang mempunyai bakat dan minat pada bidang tertentu, kembangkanlah kedua modal dasar itu seoptimal mungkin dengan belajar mandiri, mencari referensi sendiri, melatih keterampilan sendiri, demi tercapai hasil belajar yang maksimal. Untuk membangkitkan semangat belajar mandiri tersebut, ajaklah teman-teman untuk berkompetisi, berlomba dalam mengejar satu target. Kita harus merasa iri bila teman kita bisa mencapai nilai tertinggi, kita harus merasa iri bila teman kita mempunyai satu prestasi yang patut dibanggakan. Kenapa kita tidak seperti mereka? Padahal setiap manusia diciptakan Allah dengan kelebihannya masing-masing. Lalu apa sebenarnya kelebihan kita? Kelebihan kita tidak akan pernah ada, bila kita sendiri tidak berupaya menggalinya. Oleh karena itu mulai hari ini galilah potensi yang ada dalam diri kita, latihlah ketrampilan dasar kita setahap demi setahap hingga di suatu saat nanti keterampilan yang kita miliki sampai pada tingkat profesional. Tak ada kata mustahil bila ada semangat, usaha dan kerja keras.
Dan akhirnya saya ucapkan selamat belajar mandiri, semoga menjadi pemenang dalam berkompetisi pada bidang keilmuan yang sesuai dengan bakat masing-masing!

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niceceu.blogsome.com/2006/11/12/siswa-dan-belajar-mandiri/trackback/

  1. Ada sedikit hal yang harus diperhatikan ketika kita membicarakan siswa belajar mandiri ini. Hal ini berkaitan dengan kearifan seorang guru untuk bisa mengakui kekurangannya dan memperlihatkan dengan bijaksana segala kelebihannya sebagai guru. Yang saya amati dua hal tersebut jarang guru dapat melakukannya sekarang ini …tanpa penelitian lebih dalam sih…sehingga pernyataan ini patut diragukan kebenarannya ;) )

    Bayangkan ketika seorang murid kencang berlari belajar dan memperoleh hasil maksimal, sementara sang guru hanya memiliki ilmu sebatas yang pernah dia pelajari saat kuliahnya…. silahkan renungkan apa yang akan terjadi.

    Comment by Tibelat — November 23, 2006 @ 10:11 am

  2. Terima kasih atas komentarnya. Saya selalu menunggu komentar anda selanjutnya, demi perbaikan profesi saya pribadi khususnya, dan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya.

    Comment by nice_ceu — November 24, 2006 @ 12:04 am

  3. bu.photo ibunya luthu deh,luthunya ampun …
    kok nggak ada photo aqunya sih …
    eh,bu mu nanya ini kelas berapa angk berapa

    Comment by anggun — March 25, 2008 @ 9:53 am

  4. Terima kasih atas komentarnya, Anggun. Poto di atas kelas 8 angkatan 2006. Ah jadi malu ibu dikatakan luthu di dalam foto :)

    Comment by nice — March 26, 2008 @ 12:01 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M