Aku, Rasa, dan Logika

November 30, 2006

Sahabatku Diary

Filed under: Forum Siswa

my diary

Oleh Popon Saadah

Jika ada yang bertanya kepada penulis tentang siapa yang paling setia dan sabar mendengarkan keluhan kita dan paling pandai menyimpan rahasia kita? Jawabannya adalah Diary. Semua orang yang senang menumpahkan uneg-unegnya dalam bentuk tulisan tentu akan setuju dengan pendapat penulis tersebut. Dan Band Ratu pun berkisah tentang persahabatannya dengan diary melalui sebuah lagu berjudul “Dear Diary”.
Diary adalah buku yang biasanya berukuran lebih kecil dari buku tulis biasa, yang berisi catatan harian seseorang, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Oleh karena itu diary lazim juga disebut buku harian. Kebanyakan orang senang menulis peristiwa kesehariannya pada buku harian ketika usianya memasuki fase masa remaja. Barangkali karena pada fase inilah biasanya bermunculan gejolak-gejolak perasaan yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk curhat. Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga orang yang sangat setia pada diary-nya, menulis terus menerus di buku harian hingga akhir hayatnya.
Sekarang, dengan beragamnya jenis buku-buku tulis mungil (note book) yang tersedia di toko-toko buku, sejatinya berpengaruh pula pada meningkatnya minat orang untuk membuat catatan hariannya pada buku diary. Gambar cover buku yang menarik, format buku yang lucu, serta dilengkapi dengan kunci gembok mungil agar buku harian kita tak bisa dibuka orang, bisa meningkatkan animo masyarakat terutama kaum muda untuk menjadikan diary sebagai sahabat untuk curhat.
Sebenarnya bila kita serius dan optimal dalam memfungsikan buku harian, buku kecil ini akan menjelma menjadi buku multifungsi, bukan hanya sekedar tempat menadah curahan hati seseorang.
Multifungsi? Memang apa saja fungsinya? Pertama, diary digunakan sebagai media untuk mencurahkan segala perasaan yang terpendam dalam hati kita, itu sudah jelas. Selain itu, diary juga berfungsi sebagai media ekspresi kreatifitas kita. Dengan menggoreskan gagasan dan merangkainya dalam bentuk kalimat-kalimat pada buku tersebut, disadari atau tidak, sesungguhnya kita sedang mencipta, dan pekerjaan mencipta adalah bagian dari proses kreatifitas seseorang. Semakin sering kegiatan tersebut dilakukan, organ tubuh kita yang berfungsi sebagai alat berkomunikasi akan semakin terlatih. Dengan begitu semakin sering kita mengisi buku harian, berarti kita akan semakin mahir menggunakan bahasa tulisan.
Diary adalah arsip bagi orang yang senang mendokumentasikan segala hal yang dianggapnya penting dan berkesan. Dalam hal ini diary berarti buku sejarah perjalanan hidupnya. Dan bila mengingat memory manusia itu lemah dan tak bisa diandalkan untuk menyimpan kenangan-kenangan yang setiap hari bermunculan, diary adalah alat pendokumentasian yang paling tepat.
Bagi seorang penulis, terutama penulis fiksi, diary merupakan bahan yang siap diolah menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dikonsumsi publik. Catatan harian tersebut dapat pula dijadikan bahan untuk penulisan otobiografi.
Banyak sudah diary atau catatan harian seseorang yang diterbitkan dalam bentuk buku untuk kemudian dilempar ke pasaran, sebagai contoh, “Catatan Harian Seorang Demonstran” kepunyaan Soe Hok Gie, atau buku harian seorang remaja pecandu narkoba yang berjudul “Go Ask Alice”. Ternyata sebuah buku harian –apalagi yang isinya unik—bisa mendatangkan uang, serta bisa membuat penulisnya tiba-tiba menjadi terkenal.
Paling tidak, dengan diary yang selalu bercerita tentang adegan-adegan keseharian kita, yang selalu merekam resah gelisah atau suka citanya perasaan kita, kita bisa berintrospeksi. Dengan membuka kembali lembar demi lembar perjalanan hidup kita yang telah berlalu, kita akan segera tahu, kesalahan apa yang tidak boleh terulang lagi dalam hidup kita ke depannya. Atau, sudah seberapa jauh peran kita sebagai insan mulia dalam menjalani kehidupan ini. Diary kita akan menjawab semua pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya.
Kini, seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, buku harian juga mengalami “metamorfosis”, dari bentuk sederhana berupa catatan-catatan yang tersimpan dalam lembaran-lembaran kertas yang kemasannya kita sebut buku, menjadi diary online (webblog), tampil dalam wujud maya di dunia cyber, menggunakan perangkat komputer dan internet sebagai media utamanya. Dengan begitu, diary tidak lagi bersifat rahasia, karena biasanya pemilik webblog tersebut berharap catatan hariannya diakses setiap orang, dan berharap pula tulisannya dikomentari oleh orang yang membacanya. Fungsinya pun semakin bertambah, bukan hanya sebagai media untuk mencurahkan segala perasaan pemiliknya, juga bisa digunakan sebagai ajang berkenalan, berkomunikasi, bahkan berdiskusi antar pengguna aktif internet lewat kolom comment yang telah tersedia di bawah tulisan kita.
Diary dalam bentuk buku maupun diary online sama pentingnya. Keduanya sebagai barang bukti bahwa pemiliknya sedang maju selangkah menuju ke arah terciptanya budaya literat di masyarakat.
Dan, apa kabar diary anda?

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niceceu.blogsome.com/2006/11/30/sahabatku-diary/trackback/

  1. Ah abdi mah teu gaduh diary. Jaman baheula mah osok nulis dina diary, tapi ayeuna mah sigana teu romantis deui diary na…….he he he…..

    Comment by Fz — November 30, 2006 @ 9:00 am

  2. Tapi pan Fz kagungan blog, sami wae atuh.

    Comment by nice_ceu — December 4, 2006 @ 1:12 am

  3. Sisi lain dari seni hidup adalah menulis
    dengan menuliskan apa yang telah kita lakukan dan kita pikirkan akan memberikan gambaran yang lebih nyata tentang siapa kita sebenarnya……………OK

    Comment by Waw — December 6, 2006 @ 10:22 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M