Mari Berpacu dengan Waktu

Oleh Popon Saadah
Waktu adalah lahan dan kesempatan kita untuk berbuat sesuatu, sesuatu yang buruk maupun yang baik. Waktu ibarat lahan tempat kita menanam berbagai amal perbuatan, untuk kemudian dipetik hasilnya di suatu saat nanti.
Waktu berjalan teratur menuju ke arah esok hari, lusa, dan masa depan. Waktu tidak bisa diputar mundur. Dengan begitu bila ada penyesalan, kita hanya bisa menyesali perbuatan yang kita sesalkan itu di kemudian hari.
Idealnya, irama hidup kita seiring dan sejalan dengan melajunya waktu, menjalani rutinitas sehari-hari tepat waktu, sehingga bisa mencapai semua target secara efektif dan efisien sesuai rencana kita. Tapi pada kenyataannya segala hal yang ideal itu sangat berat untuk dilaksanakan. Membiasakan diri hidup berdisiplin seiring dengan perputaran waktu perlu tekad yang kuat, serta aturan hidup yang ketat sejak kita masih kanak-kanak.
Bila melihat wujud kongkritnya, sang waktu berbentuk angka-angka yang terus berubah dengan cepat. Dari detik ke menit, dari menit menjadi jam, dari jam menjadi hari, dan seterusnya. Bandingkan dengan kesehariaan hidup kita. Bila direnungkan, kegiatan kita setiap hari lebih sering tertunda (secara disengaja), sedangkan waktu terus berpacu. Di samping itu, sadar atau tidak kita juga sering melakukan hal yang sebenarnya tidak bermanfaat dan tidak menghasilkan apa pun, malah cenderung membuat kita semakin merugi, seperti mengobrol berkepanjangan ngaler ngidul dengan teman-teman, yang biasanya dibumbui dengan bercanda berlebihan, menyakiti hati lawan bicara kita secara sadar atau pun tidak, serta tidak jarang pula akhirnya malah bergunjing. Dengan begitu sesungguhnyalah kita telah membuat waktu berlalu dengan sia-sia.
Kita baru menyadari begitu berharganya waktu ketika mengalami hal-hal yang membuat kita sangat kecewa, misalnya ketinggalan kereta api, terlambat pergi ke tempat bekerja, batal memenuhi undangan seseorang karena kesiangan, dsb. Dalam keadaan seperti itu kita akan berpikir, kenapa waktu tidak bisa mundur atau berhenti dulu barang sejenak pun?
Kadang-kadang waktu bisa terasa cepat melaju bisa juga terasa begitu lambat merayap, sesuai suasana hati yang sedang kita rasakan. Bagi orang yang sedang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, dapat dipastikan, waktu berlari bak pesawat jet. Pergantian hari serasa secepat mata berkedip. Tapi bagi mereka yang tengah mengalami hal-hal yang tidak dia inginkan, waktu seakan melangkah sangat pelan. Ketika seseorang sedang terbaring lemas di rumah sakit, atau sedang menjalani hukuman di dalam terali besi, barangkali waktu dirasakannya seolah-olah berhenti, hari seperti enggan berganti.
Bila lebih dalam kita renungkan, lebih jauh kita telaah, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, berharga melebihi apa pun. Dalam waktu ada sejarah manusia, dalam waktu ada kenangan, ada pengalaman, ada amal perbuatan, ada rencana dan angan-angan, juga dalam waktu ada prediksi atau ramalan.
Dengan waktu kita bisa menjadi orang yang merugi atau beruntung. Seperti telah dijelaskan semuanya dalam Al Qur’an, bahwa dalam mengisi waktunya semua manusia itu merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Nabi Muhammad pun menyerukan kepada ummatnya agar menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Bila satu hari saja tetap seperti hari kemarin atau hari ini, berarti kita termasuk orang yang merugi. Lalu bagaimana nasib kita ke depannya jika hari ini dan esok lebih buruk dari hari kemarin? Mungkin hanya waktu jualah yang bisa menjawabnya.
Mari kita berbuat sesuatu yang bermutu, selagi kita masih diberi waktu oleh Sang Pencipta waktu.
