Belajar dari Karakter Orang-orang Sekitar
Gambar: hasil download dari Google
Oleh Popon Saadah
Manusia adalah mahluk sosial. Mereka diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain. Manusia ada untuk saling menolong, karena pada hakekatnya mereka saling membutuhkan pertolongan. Untuk mempertahankan keberadaannya, manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, tapi berkoloni. Sehingga dalam hidup bermasyarakat muncullah istilah-istilah: organisasi, komunitas, paguyuban, perkumpulan, perserikatan, dsb. Semua itu semata-mata merupakan perwujudan hasrat manusia dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi.
Semakin luas pergaulan kita, akan semakin leluasa memilih relasi. Semakin banyak kenalan, akan semakin faham pada berbagai karakter orang. Akan semakin banyak pula pengalaman yang kita dapatkan ketika berinteraksi dengan orang lain dari berbagai tingkatan kehidupan.
Lalu perlukah kita mengenal, memahami, menyelami serta mempelajari sifat setiap orang yang sudah terlanjur menjadi rekan kita? Saya kira sangat perlu, demi keharmonisan hubungan dan demi kelestarian persahabatan yang telah dengan sengaja kita jalin bersama. Jangan sampai kita menjadi individu yang terisolasi hanya karena tidak pandai menempatkan diri di setiap situasi.
Dengan demikian muncul pula seni berteman yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Bagaimanakah cara mempelajarinya? Tentu saja langkah praktisnya bukan dengan mencari teori dan referensi, karena karakter lingkungan yang dihadapi setiap orang sangat bervariasi. Barangkali langkah efektif adalah seperti yang telah disebutkan di atas, berusaha memahami, menyelami, dan mempelajari karakter setiap individu yang kita kenal itu. Kemudian meniru hal-hal positif yang muncul dari setiap kepribadian, serta menjadikan karakter negatif mereka sebagai cermin. Dengan belajar dari karakter orang-orang di sekitar kita, diharapkan kita pun bisa berintrospeksi, menata diri menuju ke arah yang lebih baik.
Bila kita menarik kesimpulan umum tentang karakter seseorang yang kurang disukai dalam pergaulan, akan terurai sifat-sifat buruk sebagai berikut:
1. Angkuh, merasa diri lebih segalanya dari orang lain;
2. Menganggap remeh orang lain;
3. Berpikir negatif tentang orang lain;
4. Iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain;
5. Selalu ingin mendominasi orang lain dalam segala hal;
6. Selalu ingin memanfaatkan orang lain untuk keuntungan dirinya;
7. Tidak bisa mengendalikan alat ucapnya ketika berbicara, sehingga kerap menyakiti hati orang lain;
8. Senang menebar konflik dengan sahabat dekat sekalipun dan memperuncing konflik itu sendiri.
Agaknya kepribadian seperti inilah yang mesti dihindari, bahkan mesti dibuang jauh-jauh dari dalam diri kita. Dan seseorang yang berkarakter demikianlah yang layak dijauhi oleh orang-orang yang menjunjung tinggi persahabatan yang tulus serta mengutamakan kebersamaan, sebab biasanya orang yang mempunyai sifat-sifat negatif seperti telah diuraikan di atas sangat sulit untuk diajak bekerja sama dalam segala hal.
Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kegiatan yang dalam pengerjaannya mau tidak mau harus melibatkan orang lain. Contoh kongkrit: seorang ibu rumah tangga yang membutuhkan jasa pembantu, seorang kepala sekolah yang membutuhkan bawahannya yaitu para karyawan tata usaha beserta guru-gurunya, seorang dokter yang sangat mengharapkan bantuan para suster, dsb. Meskipun para pembantu tersebut bekerja karena dibayar, tapi tetap saja dalam bekerjasama antara bawahan dan atasan harus berlandaskan keiklasan dan kesadaran akan tugas maupun kewajibannya. Dapat dibayangkan bila salahsatu dari mereka berperilaku buruk, sudah bisa dipastikan hubungan keduanya akan selalu menghadapi kendala.
Intinya, tak ada hitung-hitungan untung rugi dalam bekerja sama dan berkawan, karena kerelaan atau ketulusan hati sebagai dasarnya. Jangan coba-coba pula melakukan pengkhianatan dalam persahabatan, bila tak ingin kehilangan teman sebenar-benarnya teman.
Tentu saja kita sangat berharap dapat membentuk watak kita sedemikian rupa sehingga menjadi orang yang berkepribadian utuh, menyenangkan, dan mengesankan. Mari belajar dari karakter orang-orang sekitar!

Belajar dari orang sekitar kita….hmmm…kenapa ya orang indonesia masih sering ketinggalan dengan orang asing?
Comment by Tibelat — February 23, 2007 @ 5:50 am
Terkadang itu bisa menjadi cermin bagi pribadi kita? untuk bertanya ? apakah demikian pula diri kita termasuk dalam pribadi seperti itu. Dan, ketika kita sadar bahwa salah satu karakter kita ada dalam salah satu point tersebut membuat kita menunduk.
Comment by INTAN — November 18, 2009 @ 5:18 am