Aku, Rasa, dan Logika

March 7, 2007

Murid Kita adalah Anak Kita Juga

Filed under: Forum Guru

peserta didik

Oleh Popon Saadah

Sejak terbersit niat dalam hati kita ingin menjalani profesi guru, seharusnya terbersit pula niat untuk sepenuhnya menekuni profesi itu, serta mau dan rela berpayah-payah mendidik anak-anak, yang tentu saja bukan anak-anak kandung kita, tapi titipan para orang tua, yang pada hakikatnya adalah titipan Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu profesi guru berbeda dengan profesi-profesi yang bergelut di bidang lain. Profesi guru tidak boleh tidak harus berpijak pada idealisme, atau kalau pun hal itu terasa berat bagi seseorang, sisakanlah barang sedikit idealisme itu. Sebab bila unsur idealisme sudah terkikis serta luntur dalam diri seorang pendidik, lalu digantikan dengan egoisme, akan menimbulkan masalah. Dan bila masalah tersebut tidak segera diatasi, pertanda akan bermunculan masalah-masalah baru sebagai penyebaran dari induk masalah tadi.
Di lapangan banyak contoh kasus yang berawal dari ketidak mengertian seorang guru pada hakikat profesinya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa bidang garapannya adalah ujung tombak kemajuan bangsa ini. Mereka terlalu fokus pada hal-hal yang sifatnya material, serta hasil yang instant dan kasat mata. Mereka tidak menghargai proses dalam mendidik peserta didik, yang sudah pasti membutuhkan kesabaran, rasa kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Mereka juga lupa bahwa yang mereka hadapi itu adalah mahluk hidup, yang tidak bisa disamakan dengan bahan adonan yang bisa dicetak seperti mencetak kue, tidak dapat dibentuk begitu saja menurut kemauan mereka sendiri. Mereka lupa bahwa setiap pribadi itu unik dan kompleks, sehingga pendekatan kepada setiap murid dan penanganan problem-problem siswa dilakukan secara serampangan dan diseragamkan. Tidak berdasarkan ilmunya. Padahal bila dilihat dari gelar yang disandang dan pendidikan yang pernah diraih para guru tersebut, seharusnya kapabilitas mereka sudah tidak diragukan lagi.
Kasus-kasus yang muncul di lapangan cukup membuat kita terheran-heran. Tindakan maupun sikap mereka terhadap anak didik menyamarkan fungsi dan tujuan pendidikan itu sendiri. Seorang guru yang marah kepada murid-muridnya, karena para muridnya itu tidak mengerjakan tugas adalah sebuah kewajaran. Tapi akan menjadi tidak wajar bila guru yang bersangkutan mogok mengajar berminggu-minggu di kelas yang semua siswanya pernah ia marahi. Terjadilah pertikaian murid versus guru. Murid merasa cukup meminta maap dengan melalui perwakilan mereka saja, tidak perlu berduyun-duyun menghadap guru tersebut. Sedangkan guru menganggap itu belum cukup. Semua murid harus bertekuk lutut di depannya, mengakui kesalahannya, dan entah apa lagi yang beliau inginkan.
Dan jika pada kenyataannya siswa tidak mengerti juga keinginan guru itu, sang guru pun tak mau menurunkan kadar ego dan gengsinya, maka masalahnya bisa dipastikan akan berlarut-larut. Guru tidak mau menunaikan kewajibannya, padahal dia sudah dibayar! Dan sudah barang tentu muridlah yang dirugikan, dia kehilangan haknya, tidak mendapat palajaran, padahal dia memasuki sekolah itu membayar dengan sejumlah uang, tidak gratis!
Jika kita mau berpikir jernih, siapa yang lebih bersalah dalam hal ini? Gurunya! Murid itu, namanya juga murid, anak-anak yang perlu dan masih harus dididik sebagaimana mestinya oleh orang dewasa, dalam hal ini oleh orang tuanya di rumah, serta oleh gurunya di sekolah. Sungguh bukan pertikaian yang seimbang bila siswa sebagai anak kemarin sore harus melawan guru yang sudah cukup umur dan sudah banyak makan asam garam kehidupan. Bila tindakan guru tersebut dimaksudkan untuk menghukum murid-murid supaya mereka berubah ke arah yang lebih baik, saya kira bukan begitu caranya, bukan dengan cara menelantarkan siswa. Berminggu-minggu siswa tidak mendapat pelajaran darinya, karena dia ngumpet di ruang guru! Apalagi yang beliau musuhi itu adalah anak-anak kelas 9 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Di mana rasa tanggung jawab beliau sebagai pendidik?
Apa yang bisa diharapkan oleh para siswa dari guru yang pendendam seperti itu? Apa yang bisa dijadikan teladan dari guru yang sangat egois dan bertemperamen seperti itu? Tak ada yang bisa diharapkan alias tak berguna! malah perilakunya sangat berbahaya. Bisa menimbulkan antipati parasiswa pada mata pelajaran yang dia pegang, terlebih pada individunya. Bisa menyebarkan bibit-bibit dendam. Bisa merusak situasi dimana proses belajar mengajar berlangsung. Bisa merusak citra profesi guru, dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya.
Tugas guru itu memang berat. Tantangan yang dihadapi semakin rumit. Tapi bukan berarti harus kehilangan jatidiri. Profesionalisme tetap harus dikedepankan, dan yang terpenting adalah harus selalu introspeksi diri. Apakah kita ini sudah lebih baik dari murid-murid kita sendiri?

10 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niceceu.blogsome.com/2007/03/07/muri-kita-adalah-anak-kita-juga/trackback/

  1. Piraku aya guru nu kitu? ambeuk ka murid nepi ka mogok ngajar…tah kumaha kepsek menanggulangi keadaan guru nu kitu?. Nya moal nyalahkeun murid mun murid jadi teu bener teh, dan lagi ortu murid tahu nggak tah keadaan begitu di sekolah? Sigana bu Popon mah guru yang baik, yang bisa menjadikan muridnya berguna bagi bangsa dan negara dan agama juga kayanya sih…good on u dear………..

    Comment by Fz — March 7, 2007 @ 11:47 am

  2. Di lapangan ada kasus seperti itu, Fz. Saya tidak akan berani menulis seperti ini, kalo tidak pernah terjadi di dunia realita. Semoga saya selalu mendapat teguran untuk tidak bersikap demikian. Terima kasih atas support-nya.

    Comment by nice_ceu — March 8, 2007 @ 7:11 am

  3. Ah ci neng mah teu di waler tuh pertanyaan2 dina comment nu di luhur. Tapi ari kaabotan mah entong lah.

    Comment by uwa — March 8, 2007 @ 9:42 pm

  4. Salah satu penyebab yang menjadikan sikap atau perilaku guru seperti itu kadang cuma untuk menutupi kekurangannya juga. Misalnya …. ???? naonnya ;) )

    Comment by tibelat — March 10, 2007 @ 1:16 am

  5. hi, Tibelat, apa dong kekurangannya? biar aku bisa koreksi diri gitu….

    Comment by nice_ceu — March 13, 2007 @ 8:07 am

  6. Tuh nya kok nggak ada yg menjawab soal bagaimana kepsek menanggulangi kejadian ini, dan apakah ortu murid tahu nggak soal ini? sok atuh pangwalerkeun nya kusaha wae. asal ti guru…….he he he…..

    Comment by fz — March 14, 2007 @ 7:53 am

  7. nu pasti mah kurang duit …. ayeuna pan di kota bandung pan masih belum juga diberesin masalah tunjangan (kata koran sih ;) )

    Comment by tibelat — March 15, 2007 @ 8:02 am

  8. kumaha atuh lamun guruna horeameun ngajar?padahal murid2na geus menta hampura…kumaha atuh ceu…..?

    Comment by Anonymous — March 15, 2007 @ 8:06 am

  9. Ok, akan saya jawab pertanyaan Fz, yang bikin dia amat sangat penasaran.
    Sebelum lapor ke kepsek, kita harus kasih waktu guru yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah dengan parasiswa. Setelah saya tunggu-tunggu, ternyata dia tak acuh, bersikukuh pada keinginannya untuk tidak masuk kelas. Lalu sebagai walikelas, saya laporan kepada BP. Dia sempat menjawab dengan nada sinis, “Silahkan saja laporkan!” Dan akhirnya masalah ini ditangani oleh BP. Rupanya dia tidak mengira masalahnya akan ditangani pihak lain. kelihatannya dia tidak suka perilakunya diusik2 orang lain. Akhirnya ya…dia masuk kelas lagi. Jadi Fz, kita tidak langsung main lapor ke kepsek atau orang tua. Ada tahapan-tahapannya dulu. Kecuali bila dia mogok mengajar seterusnya. Begitu sodara!!

    Comment by nice_ceu — March 15, 2007 @ 10:19 am

  10. egois….itu salah satu hal yang diajarkan disini kan (bukan kekurangan deng), kita tidak dibiasakan untuk mengakui kalau kita salah….selalu yang diajarkan sejak kecil adalah berkelit cari kambing hitam. Contohnya kalau kita kentut di depan orang lain juga….bukan saya yang kentut tapi si A … si B … dst. lah… jadi sebenarnya ya kaharti sikapnya tak acuh juga ketika ada orang lain berusaha membereskan hal tersebut ….. Jauh teuing nya nyambungna ;) )

    Comment by Arjuna Wiwaha — March 16, 2007 @ 5:59 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M