Bahasa Sunda

Oleh Popon Saadah
Bila kebetulan kami para guru bahasa Sunda berkumpul atau bertemu di suatu tempat, selalu ada saja orang di luar profesi kami yang menganggap bahwa kami adalah guru yang mengajarkan pelajaran yang sulit dan klasik. Dan di antara mereka suka ada yang menghampiri serta ikut nimbrung percakapan kami. Anehnya pernyataan yang mereka ajukan kepada kami di mana pun dan kapan pun selalu sama. Pernyataan-pernyataan itu seperti berikut.
“Bahasa Sunda itu susah ya, anak-anak kami enggan menggunakannya karena takut salah menggunakan undak-usuk basa. Dalam mata pelajaran bahasa Sunda itu banyak istilah yang aneh, seperti ngaran-ngaran kekembangan dan ngaran-ngaran anak sasatoan. Dulu waktu kami masih sekolah di SD semua itu hapal di luar kepala. Wah sekarang sudah pada lupa tuh. Undak-usuk basa itu njelimet ya….saya benar-benar takut salah menggunakannya.”
Pernyataan itu selalu berulang ditujukan kepada kami di setiap kesempatan dari orang yang berbeda. Saya sebagai guru bahasa Sunda merasa bosan menanggapinya. Apa tak ada lagi pernyataan lain yang lebih menarik untuk direspon?
Padahal jika mereka paham, bahasa Sunda itu tidak hanya kukulibekan mengurusi masalah nama kekembangan dan nama anak sasatoan, serta undak-usuk basa. Sesungguhnya mata pelajaran bahasa Sunda diupayakan berisi materi yang membahas dan mengajak kita memikirkan hal-hal yang lebih luas dari pada semua itu. Sesuai dengan kurikulum yang sekarang berlaku, guru mata pelajaran Bahasa Sunda mengemas semenarik mungkin pelajaran yang dipegangnya untuk menghindari kesulitan dan kebosanan para siswa.
Para penyusun buku pelajaran beserta gurunya berusaha mengajarkan bahasa Sunda semudah mungkin kepada para siswa, serta materi pelajaran dibuat kontekstual dan relevan dengan zamannya. Materi Bahasa Sunda kami kaitkan dengan masalah agama, sosial, budaya, ekonomi, tatakrama, filsafat hidup, olah raga, pemerintahan, dan teknologi. Jangan berharap anak-anak sekarang hapal secara ngolotok nama-nama kekembangan dan anak-anak sasatoan, sebab menurut hemat kami hal itu hanyalah mengajarkan hal-hal yang bersifat verbalisme kepada generasi penerus.
Lebih jauhnya kami bercita-cita bahasa Sunda bisa digunakan sebagai bahasa ilmiah, yang bisa menjelaskan berbagai ilmu pengetahuan kepada penggunanya. Dan hal itu sangat mungkin, mengingat jumlah para sarjana bahasa Sunda dewasa ini sangatlah banyak.
Saya sendiri sebagai bagian dari etnis Sunda yang merasa berkewajiban melestarikan bahasa ibu berkeinginan dan berharap banyak, kelak di kemudian hari bahasa Sunda bisa tetap hidup dan semarak digunakan oleh penggunanya di era globalisasi, serta bisa sejajar dengan bahasa-bahasa lain yang survive. Diharapkan bahasa Sunda bisa menjembatani penggunanya dalam memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknologi informasi maupun teknologi di bidang lainnya. Dan diharapkan pula bahasa Sunda semakin kaya dengan kosa kata-kosa kata baru serapan dari bahasa asing yang tentu saja setelah disesuaikan dengan lidah orang Sunda. Dengan begitu orang-orang Sunda akan tetap eksis dalam segala bidang, baik sebagai suku bangsa maupun sebagai bagian dari warga negara Indonesia.

Kenapa atuh bahasa Sunda teh harus ada tahapan untuk penempatan kata…itu kayanya yang bikin susah orang yang baru belajar lagi bahasa induknya
)
Comment by Tibelat — October 19, 2007 @ 7:50 am
Justru undak usuk basa itu ciri khas Bahasa Sunda. Seperti tenses dalam Bahasa Inggris, dan kata benda yang berjenis male & female dalam Bahasa Francis dan Arab. Bila dipraktekkan dalam percakapan sehari-hari, undak usuk basa itu sangatlah mudah. Disebut susah oleh orang yang sengaja menghindarinya lalu lari ke bahasa selain Sunda.
Comment by nice_ceu — October 26, 2007 @ 6:32 am
Ada yang memperkirakan tahun 2020 bahasa sunda akan hilang,itu jangan sampai terjadi Teh!
Comment by Roban — March 25, 2008 @ 11:35 am