Aku, Rasa, dan Logika

December 30, 2007

Mencegah Sifat Buruk Sejak Dini

Filed under: Artikel Tamu

anak2

Oleh Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd.*

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, suci, dan bersih. Kemudian datanglah setan yang menggelincirkan mereka dan menyesatkannya dari kebenaran agama mereka”(Al-Hadis).

Sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak sesungguhnya bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat-sifat tersebut terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Banyak sekali orang dewasa yang menyadari sifat-sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya, karena sifat-sifat buruk yang sudah kuat mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
Maka berbahagialah orang tua yang selalu memperingatkan dan mencegah anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa datang.
Betapa penting bimbingan intensif terhadap anak usia dini, agar mereka selalu memiliki karakter yang baik, hidup selalu lurus, suci, dan bersih. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam melaksanakan pembinaan dan bimbingan yang maksimal. Orang tua adalah insan pendidik yang kaffah yakni satu ucap dan perbuatan di hadapkan kepada Tuhan Yang Maharahman dan Maharahim, sekaligus bertanggung jawab akan peletakan dan upaya maksimal untuk melahirkan anak-anak yang berkarakter baik.
Hasil bimbingan orang tua akan terlibat langsung, saat anak berangsur-angsur berkembang tampil dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat. Pada hakikatnya, awal dasar pembentukan generasi yang saleh dan tidak saleh bermula dari upaya yang di lakukan oleh orang tua dalam keluarga. Orang tualah yang harus mempertanggung jawabkan perilaku anak-anaknya di hadapan pengadilan masyarakat yang terbuka luas tanpa batas, dan di hadapan pengadilan Mahaadil, Allah SWT.
Hukuman masyarakat terhadap anak yang berprilaku buruk biasanya berupa pertanyaan, “Itu anaknya siapa?” Pertanyaan itu seolah-olah sedang mengawali proses hukum yang sangat mendasar dilakukan masyarakat. Bila jawaban yang di sampaikan sesuai dengan pertanyaan tadi, maka pertanyaan selanjutnya muncul penilaian maksimal tentang siapa sebenarnya orang tua itu. Bahkan tidak sampai di situ, tetapi merembet kepada turunan ayah, ibu, kakek, nenek, bahkan saudara, dan lingkungannya.
Ungkapan Sunda menyabutkan, “Téng manuk téng anak merak kukuncungan” atau” uyah mah tara téés ka luhur”. Ungkapan itu menginsyaratkan bahwa tetesan prilaku orang tua akan berakibat dan terus mengalir membekas pada anaknya. Bahkan dalam ungkapan lain mengingatkan, “Jika ingin melihat bagaimana saya (orang tua), maka lihatlah anak-anaknya.”
Perbuatan anak-anak pada hakikatnya pribadi orang tuanya. Amati, hayati, dan tafakurilah perilaku anak-anak kita di dalam dan di luar rumah. Sebab, perilaku mereka merupakan jelmaan kita sebagai orang tua. Semoga Allah menghiasi keluarga kita dengan akhalakul karimah, yakni karakter yang baik, lurus, dan bersih.
Betapa besar pengaruh orang tua terhadap prilaku anak-anaknya. Bahkan diungkapkan dalam hadis, bahwa setiap anak lahir dalam fitrah, yakni kekuatan lahir atau potensi yang di berikan Allah kepada setip insan yang lahir. Hal itu di perlukan adanya bimbingan atau asuhan yang maksimal dari orang tua. Hasilnya akan di tentukan sesuai dengan upaya yang telah di lakukannya. Selain upaya yang maksimaldiperlukan pula doa.
Menurut Ulwan N. (1982), orang tua dalam mendidik anak-anaknya perlu memperkenalkan beberapa hal. (1) mengenalkan tauhid, (2) mentahnik, (3) mencukur rambut kepala bawan lahir, (4) memberikan nama yang baik, (5) akikah, (6) mengkhitan, (7) mendidik, dan (8) menikahkan.
Pertama, orang tua berkewajiban mengenalkan tauhid melalui azan yang diperdengarkan pada telinga kanan, dan iqamah pada telinga kiri saat anak lahir. Kedua, mantahnik artinya menyapih anak sebelum memberikan makanan dan minuman yang lain. Rasulullah suka mengunyah kurma matang hingga lembut, kemudian di suapkan kepada mulut anak dan sanpai mengena pada langit-langit mulut anak. Cara ini besar sekali manfaatnya demi kemajuan anak masa depan.
Ketiga, mencukur rambut kepala anak yang dibawa sejak lahir. Ini merupakan upaya menciptakan kebersihan lahir dan batin. Empat, memberikan nama yang baik. Nama adalah identitas yang akan terus disebut hingga wafat kembali kepada yang Maha Kuasa. Nama yang baik memiliki makna yang mungkin dapat melahirkan watak yang sesuai dengan makna anak tersebut.
Lima, menyembelih hewan akikah adalah menyembelih kambing atau domba pada hari ke tujuh atau keempat belas kelahiran anak, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Enam, mengkhitan adalah mengerat, memotong atau menghilangkan daging kulup yang menutupi penis laki-laki sebagai yang disunahkan dan disyariatkan. Tujuh, mendidik anak dengan upaya yang paling pertama adalah mengenalkan dan mencintai nabi Allah terutama Nabi Muhammad saw. Dan keluarganya.
Delapan, menikahkan dengan memilihkan jodoh yang unggul, hidup ditengah masyarakat yang unggul, dan dibekali bimbingan dengan nilai-nilai ilahiyah dan masyarakat yang unggul, menyerahkan kepada suaminya dengan penuh ikhlas dan pengharapan kepada Allah SWT.
“Didiklah anak-anakmu sejak dini, karena dia akan hidup pada zamannya,“ (Alhadis). Penyataan yersebut menggambarkan bahwa pembinaan karakter pada usia dini akan menjadikan anak tumbuh dan matang saat mereka hidup remaja dan dewasa.
Bahkan Allah menegaskan, “Hendaklah kamu khawatir meninggalkan generasi dalam keadaan lemah” (Alquran). Para orang tua hendaklah selalu memberikan bekal yang maksimal melalui pendidikan secara dini. Wallahu alam.***

*Penulis, Ketua Jurusan Pendidikan Umum Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.

(Dari Pikiran Rakyat, Edisi Jum’at, 28 Desember 2007)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niceceu.blogsome.com/2007/12/30/73/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M