Mengenal Lebih Dekat Seorang Qori Berprestasi

Satu lagi siswa SMPN 4 Cimahi yang berprestasi, M. Ramdan Mubarok. Siswa yang kini duduk di kelas 9 F ini sejak kelas 5 SD sudah mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qur’an se-Kota Cimahi, serta meraih juara III. Disusul dengan prestasi-prestasi selanjutnya, seperti:
Tahun 2006, juara I MTQ tingkat Kapupaten, juara I Festival Anak Sekolah Indonesia (FASI) tingkat Jabar di Sumedang, juara I MTQ untuk umum tingkat Jabar di Bekasi. Tahun 2007, juara I MTQ tingkat provinsi, juara III Festival Anak Sekolah Indonesia tingkat nasional di Jakarta.
Ramdan (panggilan akrabnya) lahir dari keluarga bersahaja. Ibunya adalah seorang single parent yang berjuang membesarkan kelima putranya. Tapi semua itu berbuah hikmah, putranya yang ke-4 bisa membuktikan bahwa, tanpa seorang ayah di sampingnya pun dia bisa meraih prestasi gemilang.
Ramdan yang dilahirkan di Bandung, 16 November 1992 ini langsung bersedia, ketika penulis mengajaknya berbincang-bincang di ruang guru. Dengan kalimat-kalimat yang kadang tersendat karena menjawab pertanyaan sambil berpikir, dia menuturkan semua tentang dirinya kepada kita. Ikuti perbincangan berikut ini.

Tanya: Tolong jelaskan, bagaimana irama hidupmu sehari-hari, sehingga bisa berhasil mengasah suara emasmu menjadi prestasi yang membanggakan!
Jawab: Saya mulai membaca Al Qur’an sejak berusia 6 tahun. Waktu belajarnya yaitu setiap subuh selama 1 jam. Kemudian Duhur 1 jam, disambung lagi pada waktu Asar 1 jam. Selepas Magrib belajar lagi selama 2 atau 3 jam, karena ditambah dengan membaca kitab kuning (Sapinah). Terus menerus begitu sampai sekarang.
T: Kalau begitu, kamu sudah bisa disebut seorang Hafiz (penghapal Al Qur’an) dong?
J: Belum, sebab saya belum hapal semua surat di luar kepala. Yang bisa saya talar (hapal di luar kepala red.) baru surat An Naba-An Naas (Zuz Amma).
T: Siapa sosok yang sangat berperan di balik kesuksesanmu sebagai qori, dan metode seperti apa yang digunakan dalam mengasah keahlianmu ini?
J: Guru saya adalah uwa saya sendiri, Pak Abdullah Hilman. Beliau menyuruh saya untuk latihan ngaderes (membaca secara berurutan setiap surat dengan melihat teksnya dalam Al Qur’an red.). Saya tidak diperbolehkan secara sengaja menghapalnya di luar kepala. Kata beliau, lebih baik hapal Al Qur’an di luar kepala itu karena sering membacanya, bukan sengaja dihapal.
T. Di usiamu yang masih sangat muda, tentu kamu sudah begitu akrab dengan kitab suci ini. Menurutmu apa sih Al Qur’an itu?
J: Al Qur’an adalah pedoman/ aturan-aturan yang datang dari Allah untuk manusia dalam menjalankan perintah-Nya dan mematuhi larangan-Nya.
T: Barangkali ada salah satu surat dalam Al Qur’an yang menjadi surat favoritmu. Surat apa itu? Dan kenapa kamu menyukainya?
J: Surat yang paling saya sukai yaitu Al Imron. Alasannya, pertama saya lebih menguasai surat itu dari pada yang lainnya. Kedua, saya pernah mendengar secara langsung surat Al Imron dilantunkan oleh teman saya dengan suara dan lagu yang sangat indah.
T: Berbicara tentang MTQ, pada saat MTQ di mana yang menurut kamu begitu berkesan, serta kenapa sulit dilupakan?
J: Pada saat lomba baca Al Qur’an di Bekasi, karena pada waktu itu para peserta (qori dan qoriah) ketika berkumpul terasa akrab sehingga bisa sharing.
T: Apa prinsip hidupmu?
J: Setiap ada keinginan saya untuk meraih sesuatu, saya harus mengejar sesuatu itu sehingga tergapai. Sesuatu itu harus saya dapatkan.
T: Tokoh yang dikagumi?
J: Syekh Hazaz Romdhon Al Handawi dari Mesir.
T: Di mana kamu mengenalnya?
J: Pada tahun 2006 beliau berkunjung ke pesantren Al Falah Cicalengka. Pada saat itulah saya mengenalnya, dan saya ingin seperti dia.
T: Sumbang saran untuk sekolahmu?
J: Saya sangat berharap ada guru di sekolah ini yang memiliki keahlian membaca Al Qur’an dengan fasih dan baik, dan mengajarkannya kepada murid-muridnya.
T: Ajakan untuk teman-teman?
J: Carilah kesempatan untuk berbuat sesuatu, serta kesempatan itu harus benar-benar dipergunakan, sebab biasanya kesempatan hanya datang satu kali. Jangan sampai kita menyesal.***
