Aku, Rasa, dan Logika

March 10, 2008

Perlukah Belajar Semalam Suntuk?

Filed under: Artikel Tamu

mahasiswa mahasiswa

Oleh Drs. Ratma Budi Priatna

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Maret. Semua perhatian masyarakat kampus akan tertuju pada Ujian Akhir Semester dan Her. Bila diperhatikan dengan seksama, masih banyak mahasiswa yang tenang-tenang saja menjelang UAS tersebut. Terlihat dari cara pengerjaan tugas-tugas, yang seharusnya dikerjakan secara mandiri di rumah, mereka malah mengerjakannya di selasar kampus dengan cara copy paste. Padahal harapan para pemberi tugas, bila mahasiswa tidak menguasai materi dan soal-soal latihan, di antara mereka akan terjadi dialog dan diskusi tentang tugas tersebut, sehingga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya.
Ketika masuk ke sesi ujian, banyak mahasiswa yang belajar mati-matian semalam suntuk. Semua itu demi memadatkan isi kepalanya dengan berbagai materi perkuliahan dalam waktu singkat. Usaha semacam ini biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang tidak berpikir panjang ke masa depan. Tidak mempunyai rancangan, mau menjadi apa kelak setelah dia lulus dari tempat di mana dia menimba ilmu selama ini. Mahasiswa seperti itu seringkali menunda waktu belajarnya sampai menjelang waktu akhir menghadapi ujian. Mereka beranggapan bahwa usaha tersebut dapat mengganti dan melunasi waktu yang sudah berlalu dan terbuang begitu saja. Mereka beranggapan pula bahwa persiapan itu sudah cukup untuk menghadapi ujian, tak berbeda dengan rekan-rekannya yang sudah jauh-jauh hari mengadakan persiapan. Dan tidak menutup kemungkinan, nilanya lebih besar dari nilai rekan-rekannya yang sebelumnya telah mengadakan persiapan. Hal itu bisa merupakan sebuah kebetulan dan keberuntungan.
Melihat faktor keberuntungan seperti itu, haruskah kita mengikuti jejak langkah mereka dalam belajar? Saya pikir jangan meniru cara seperti itu. Jangan sekali-kali menunda-nunda waktu belajar untuk menguasai materi perkuliahan. Belajar dengan cara ngebut semalam suntuk harus dihindari. Tapi bukan berarti para mahasiswa harus menjadi kutu buku setiap hari, sehingga bisa mengakibatkan kita berkacamata tebal. Idealnya mahasiswa juga harus bisa membagi waktu untuk melakukan kegiatan lain yang disukainya sesuai dengan dunia mudanya. Yang penting di sini adalah persiapan dan pengaturan waktu yang baik, sehingga hidup menjadi teratur, perkuliahan bisa dikuasai dengan baik, serta kita tetap bisa menikmati kegiatan-kegiatan lain yang kita sukai.

March 3, 2008

Liputan Seminar Motivasi di LPKIA

Filed under: Stop Pers

AW AW

Seminar ini dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Pebruari 2008, di Graha Kampus Bersih PKM dan STMIK LPKIA
Pembicara: Andrie Wongso (Motivator nomor 1 di Indonesia).
Moderator: Tjang Kian Liong, Drs.

Uraian Materi:

Manusia harus punya spirit.
Filosofi Andrie Wongso: “Sukses adalah hak saya, anda, dan kita semua. Untuk mewujudkannya kita perlu mempunyai kesadaran, keinginan, dan perjuangan dalam hidup.” Semua ini disebut sikap mental.

Berbicara masalah Indonesia.
Kondisi Indonesia di semua bidang kehidupan selama sepuluh tahun ini merosot. Dan Indonesia mengalami kemerosotan mental, karena mayoritas masyarakatnya mempunyai sikap mental yang cemas, kalut, pesimis, stress, putus asa, apatis, dsb. Masyarakat yang memiliki sikap miskin mental seperti itu susah diajak maju.
Sikap yang dikategorikan miskin mental itu seperti apa?
Malas, loyo, banyak mengeluh, takut akan perubahan, cepat berpuas diri, tidak disiplin, tak bertanggung jawab, dsb.
Untuk merubahnya diperlukan sikap mental seperti: antusiasme, keuletan, kegigihan, berpikir positif. Ini semua dinamakan spirit.
Andrie Wongso setuju dengan ajaran Islam yang salah satunya menyatakan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, bila kaum tersebut tidak mau merubahnya.

AW

Apakah Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ini? Jawabannya 1: Pasti!. Bila diibaratkan seorang ibu, Indonesia sekarang ini sedang menangis menyaksikan kehidupan bangsanya yang porak poranda. Di segala bidang terdapat banyak permasalahan:
Sumber daya manusia kalah oleh negara tetangga, ekonomi kolaps, narkoba gila-gilaan, pertikaian di mana-mana, pendidikan tidak menanamkan kejujuran, kemiskinan merajalela, hukum tidak jalan, pengangguran mencapai 25 juta orang, Indonesia itu negara paling religius sekaligus negara terkorup.
Prestasi di bidang olah raga hanya bisa mencapai peringkat ke-4 di ASEAN. Sebagai bangsa besar yang penduduknya mencapai 230 juta jiwa, Indonesia tak pantas menduduki peringkat 4, harusnya peringkat satu dalam hal prestasi.
Untuk mengatasi semua permasalahan itu, Andrie menyarankan, “Jadilah orang yang luar biasa.”
Sukses adalah akibat dari sebab-sebab yang kita perbuat. Buah dari cita-cita, perjuangan, keyakinan. Sukses bukan karena kebetulan. Sayangnya bangsa Indonesia bukan bangsa pekerja keras dan bukan bangsa disiplin. Oleh karena itu generasi mudanya harus belajar dengan baik, mengatasi ketertinggalan kita, mengejar kemajuan bangsa lain. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M