Aku, Rasa, dan Logika

July 31, 2008

Menyusun Skripsi Minor? …Siapa takut!

Filed under: Artikel Tamu

Oleh Drs. Ratma Budi Priatna

Menulis skripsi minor sering kali menjadi mimpi buruk bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa yang tidak terbiasa menuangkan gagasan dalam bahasa tulis. Menyampaikan isi pikiran melalui bahasa tulis memang memerlukan keahlian tersendiri. Hal ini dapat dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir, itu pun bila mereka sering mengasah keterampilan menulisnya hingga menjadi terbiasa. Dengan sering mengasah dengan cara menuangkan hasil berpikirnya ke dalam bahasa tulis, maka kita akan terbiasa pula mengemukakan pendapat secara sistematis.
Salah satu kendala yang dihadapi para mahasiswa dalam proses penyusunan tugas akhir berupa skripsi minor adalah sulitnya menentukan topik bahasan. Oleh karena itu, saran saya pilihlah topik bahasan yang sesuai dengan minat dan kemampuan anda. Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk dipikirkan, apakah data-data yang dibutuhkan bisa dengan mudah diperoleh? Hal itu benar-benar harus dipikirkan agar penyusunan skripsi minor tersebut tidak menjadi beban berat bagi anda. Bila topik bahasan skripsi sesuai dengan minat dan kemampuan anda, bisa dipastikan dalam proses pengerjaannya akan disertai dengan semangat dalam menggali setiap informasi yang dibutuhkan.
Untuk mengetahui topik bahasan skripsi yang kita minati, tak terlalu sulit. Tanya diri anda sendiri, apa alasannya dulu anda memilih program studi yang sekarang sedang anda geluti ini? Renungkan, apakah anda benar-benar serius menggeluti bidang yang anda pilih ini? Lihat dan kaji kembali tugas-tugas yang telah anda kerjakan dari setiap mata kuliah yang telah diikuti selama ini.
Tapi faktanya, topik bahasan skripsi yang sesuai minat dan kemampuan kita pun tidak menjamin terlepas dari permasalahan. Sering kali para mahasiswa menggarap serta menguraikan topik bahasannya terlalu luas atau sebaliknya, terlalu sempit. Untuk mengatasi masalah ini, buatlah pertanyaan-pertanyaan tentang semua hal yang akan kita uraikan pada skripsi kita. Setelah membuat daftar pertanyaan tentang bidang garapan kita itu, lalu diskusikan dengan dosen pembimbing. Jangan takut dan segan bertanya kepada para dosen pembimbing, karena memang tugas merekalah membimbing dan mengarahkan para mahasiswanya dalam menulis skripsi minor tersebut, sehingga tugas akhir mereka ini diselesaikan dengan baik dan benar.
Di dalam skripsi minor itu biasanya dibahas pokok-pokok pikiran umum yang dikemukakan oleh mereka yang berkompeten di bidangnya. Kemudian dianalisis oleh penyusun skripsi berdasarkan kasus yang dihadapi dalam kehidupan nyata di mana mahasiswa pernah melaksanakan PKL pada semester V/ IV. Untuk menyempurnakan pekerjaan anda, perbanyaklah membaca buku-buku atau pun jurnal ilmiah sebagai bahan referensi. Tulisan atau artikel yang terdapat dalam buku atau jurnal ilmiah bisa dijadikan ide dalam proses penyelesaian karya tulis anda.
Hal terpenting yang harus diingat adalah, jangan berpikir bahwa skripsi minor yang anda tulis itu harus memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. Dalam hal ini anda tidak diwajibkan menemukan suatu temuan ilmiah yang spektakuler. Skripsi minor anda hanya merupakan kajian dari pengetahuan yang telah didapat sebelumnya.
Kiat terakhir, bila masih tidak yakin dengan dengan topik bahasan yang sudah anda persiapkan, sah-sah saja bila anda melihat-lihat skripsi minor karya orang lain di perpustakaan kampus untuk bahan rujukan. Yang harus diingat, janganlah skripsi minor karya orang lain itu dicontek habis-habisan. Anda nanti disebut plagiator jadinya. Dan lulus kuliah dengan usaha diri sendiri yang maksimal akan lebih menyenangkan. ***

July 29, 2008

Gaya Hidup Orang Terkaya di Dunia

Filed under: Info Singkat

Kabar dari Sahabat

Di halaman terakhir majalah Reader’s Digest saya cukup surprise menemukan tulisan mengenai gaya hidup sederhana orang terkaya nomor 2 di dunia, Warren Buffet. Berikut ini adalah kutipannya, berdasarakan wawancara dengan televisi CNBC:

1. Warren membeli saham pertama kali pada usia 11 tahun, Dan ia menyesal tidak membeli saham saat usianya lebih muda lagi.
2. Ia membeli sebuah ladang kecil dari uang hasil menjadi loper koran, saat usianya baru 14 tahun.
3. Ia tidak mempunyai sopir dan satpam. Ia pun selalu bebergian menumpang pesawat komersial, meskipun memiliki perusahaan pesawat jet pribadi terbesar.
4.Warren tidak mememiliki ponsel atau pun komputer di mejanya, dan tidak pernah bergaul dengan kalangan jetset. Setibanya di rumah, ia biasanya membuat pop corn dan menonton teve.
5. Perusahaannya, Berkshire Hathaway, yang ia punyai sendiri berjumlah 63 perusahaan. Dia hanya menulis satu surat kepada para pimpinan (CEO) perusahaan-perusahaannya tersebut, memberikannya “goal company” tahunan. Dia tidak pernah mengadakan meeting atau memanggil mereka dalam agenda rutin. Dia hanya memberikan ke CEO-CEO-nya dua aturan yaitu:
Aturan (1). Do not lose any of your share holder’s money
Aturan (2). Do not forget rule (1).
6. Rumah kecil dengan tiga tempat tidur tanpa pagar - yang dibelinya sejak 50 tahun lalu di tengah kota Omaha - adalah “istana” bagi miliarder gaek ini.

Saya juga pernah menonton wawancaranya di CNBC. Saya lihat Warren menyetir sendiri mobilnya ketika mendampingi wartawan. Dia pun tinggal di Omaha, Nebraska, sebuah kota kecil, bukan kota besar.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sam Walton. Di buku biografinya, saya membaca gaya hidupnya kurang lebih serupa dengan Warren. Sam tidak pernah bepergian dengan pesawat kelas bisnis, selalu kelas ekonomi. Menginap di hotel pun selalu memilih kamar yang bisa disharing berdua. Mobilnya pun cuma truk pick up yang digunakannya selama berpuluh tahun. Dia pun tinggal Dan berkantor di kota kecil, Bentonville. Sam Walton Dan keluarganya adalah 10 besar orang terkaya di dunia.

Nasehat Warren Buffet ke orang-orang muda sebagai berikut: “Jauhi kartu kredit dan berinvestasilah dengan sabar untuk dirimu dan keluargamu kelak serta ingatlah hal-hal ini:”
A. Uang tidak membuat manusia, tetapi manusialah yang membuat uang.
B. Hiduplah sesederhana mungkin Dan janganlah membuat kamu sulit untuk hidup.
C. Jangan lakukan apa yang orang lain katakan, cukup dengarkanlah dan lakukanlah jika menurut hati nuranimu baik.
D. Jangan selalu mengikuti mode atau nama terkenal; pakailah hal-hal yang membuat kamu nyaman.
E. Jangan hamburkan uangmu untuk hal-hal yang tidak begitu diperlukan; pakailah untuk hal-hal yang memang diperlukan.
F. Jangan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi belajarlah.
G. Buatlah hidupmu berguna untuk orang lain atau bantulah orang lain jika kamu mampu.
H. Jika telah mengikuti semua saran di atas, mengapa harus merubah aturan hidup kamu dengan cara yang lain.

Demikianlah ujar pemilik kekayaan senilai 52 miliar dollar AS itu, yang 80 persennya baru saja disumbangkan untuk kemanusiaan.

PS:
Warren Buffet mempunyai tipikal profil “Accumulator”. Dia suka mengumpulkan aset, menunggu dengan sabar bahkan mungkin sampai bertahun-tahun hingga harganya tinggi dan menjualnya kembali atau mendapatkan cashflow dari aset itu.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M