Berburu Masakan Sunda
Menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan berburu masakan Sunda adalah kegemaranku. Ditemani mantan pacar yang selalu setia mendampingi, pekan ini saya bereksplorasi masakan Sunda di daerah Cihideung Lembang. Kenapa berburu masakan Sunda? Kenapa bukan masakan mancanegara? Sebab lidahku tak biasa mengecap menu-menu masakan asing, perutku tak mau berkompromi dengan hidangan ala Asia (selain Indonesia), ala Eropa, maupun masakan asing lainnya.
Kebetulan pada hari Minggu ini kami berdua berkesempatan mengunjungi Kampung Daun. Tapi mantan pacar kurang setuju dengan penataan tempat bersantapnya, yang katanya agak gelap dan menyiratkan kesan begitu privacy. Padahal perasaanku justru sebaliknya. Menurutku tempat-tempat yang disediakan di Kampung Daun ini bikin saya betah, terkesan romantis, tenang, dan sangat alami. Tempat-tempat bersantap para tamu ditata sedemikian rupa, berbentuk saung, ada yang posisinya dekat dengan tanah, ada yang berada di atas tebing dilengkapi dengan tangganya, serta di dalamnya dihiasi gordyn dan bantal-bantal untuk teman duduk.

Pelatarannya dihiasi pula oleh bebatuan besar maupun kecil.
Air mengalir deras di sungai kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menambah kesan alami tempat ini. Sayang sekali suamiku tak berniat berlama-lama di sini, dengan alasan suasananya mencekam (keueung), ditambah pada saat ini tak banyak pengunjung yang datang.
Di dekat gerbang masuk terdapat area untuk bersantap (café). Ketika saya memperhatikan daftar menu yang dipamerkan di luar café, terlihat sederetan nama menu asing seperti steak dan kawan-kawan.
Akhirnya kami pergi ke Sapulidi, masih di daerah Cihideung juga. Situasinya sedikit ceria dibanding tempat yang tadi. Tempat bersantapnya berupa saung ranggon yang terletak di tengah-tengah sawah, dilengkapi dengan kentongan yang berfungsi sebagai alat panggil pramusaji bila tamu atau konsumen hendak memesan menu masakan. Suasana tempat ini lebih terbuka dan lebih ramai oleh pengunjung. Suara orang mengobrol baik dari dapur maupun dari saung-saung yang ada di sekitarnya tak henti-hentinya bersahut-sahutan. Hal ini jelas-jelas menghilangkan kesan mencekam (keueung) bagi orang yang penakut seperti mantan pacarku itu.
Di tempat ini setiap saung ranggon ada namanya, mungkin untuk memudahkan pramusaji mengirimkan makanan pesanan ke tempat di mana para tamu sedang duduk menanti kiriman hidangan. Dan Saung yang saya pilih untuk tempat makan siang ini bernama Saung Bengong. Selain itu ada juga Saung Bubudakeun dan Saung Kokoloteun. Saung yang kupilih ini berada di tengah sawah yang padinya sudah mulai menguning, hanya saja tak ada bebegig (orang-orangan sawah) di tengah-tengahnya.
Ketika saya meneliti daftar menu satu persatu, sedikit kecewa, sebab tak terdapat jenis menu bernama tutug oncom. Padahal lidah saya sudah rindu pada makanan khas Sunda itu yang juga makanan kegemaran salah seorang sahabat dekat. Dan terpaksa saya memesan menu yang lain, dengan harapan suatu saat nanti saya dapat menemukan tempat bersantap yang bisa mengobati kerinduan saya pada tutug oncom.

ajakan sayah atuh engke mah nya, aceuk. sayah mah moal borangan diajak ka kampung daun nu paparoek ge. oke….
Comment by Anna — October 27, 2008 @ 1:59 am
Ha ….ha….ha….eta paguneman aceuk sareng ayi nya…….ih kabita kunu romantis….numana aceuk nu mana ayi……he he he
Comment by urang ozi — October 27, 2008 @ 2:29 am
geuning ganti jadi Anna, tadi mah da nu nulis komen pertama teh niceceu.
Comment by urang sebrang — October 27, 2008 @ 2:40 am
Tadi, blog abdina error, padahal nu nyerat komentar teh Bu Anna. Hatur nuhun kana perhatosanana.
Comment by niceceu — October 27, 2008 @ 4:09 am
Hawatos ka nu hoyong sangu tutug oncom. Memang sesah milarian di luar mah, ngadamel nyalira we atuh da gampil.
Cobian ka Jl. Surya Sumantri atanapi Jl. Sulanjana.
Comment by gajah_kurus — October 27, 2008 @ 6:57 am
Sok atuh pangdamelkeun, Yi!
Comment by niceceu — October 28, 2008 @ 1:56 am
Duuuh…hanjakal we mantan pacarna teu ngiring di foto…cobi upami ngiring…katingal romantisna.
Comment by nia — October 28, 2008 @ 3:56 am
Pan mantan pacar mah anu motona atuh, miwarang batur mah bilih awis buruhna, nganggo nu otomatis….bilih error…
Comment by niceceu — October 28, 2008 @ 4:07 am
aduh etteh hebat..,meuni waas,kabita.
pokonamah katuangan sunda tea atuh maknyos
Comment by cayank — October 30, 2008 @ 3:53 am
Iraha atuh urang bade botram tea teh?
Comment by niceceu — October 30, 2008 @ 4:07 am
insya allah upami abdi kabandung bade nyobian tuang di saung sunda.
Comment by latifah saputra — February 26, 2009 @ 5:58 pm