Aku, Rasa, dan Logika

February 1, 2008

Mengenal Lebih Dekat Seorang Qori Berprestasi

Filed under: Bincang-bincang

M. Ramdan Mubarok

Satu lagi siswa SMPN 4 Cimahi yang berprestasi, M. Ramdan Mubarok. Siswa yang kini duduk di kelas 9 F ini sejak kelas 5 SD sudah mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qur’an se-Kota Cimahi, serta meraih juara III. Disusul dengan prestasi-prestasi selanjutnya, seperti:
Tahun 2006, juara I MTQ tingkat Kapupaten, juara I Festival Anak Sekolah Indonesia (FASI) tingkat Jabar di Sumedang, juara I MTQ untuk umum tingkat Jabar di Bekasi. Tahun 2007, juara I MTQ tingkat provinsi, juara III Festival Anak Sekolah Indonesia tingkat nasional di Jakarta.
Ramdan (panggilan akrabnya) lahir dari keluarga bersahaja. Ibunya adalah seorang single parent yang berjuang membesarkan kelima putranya. Tapi semua itu berbuah hikmah, putranya yang ke-4 bisa membuktikan bahwa, tanpa seorang ayah di sampingnya pun dia bisa meraih prestasi gemilang.
Ramdan yang dilahirkan di Bandung, 16 November 1992 ini langsung bersedia, ketika penulis mengajaknya berbincang-bincang di ruang guru. Dengan kalimat-kalimat yang kadang tersendat karena menjawab pertanyaan sambil berpikir, dia menuturkan semua tentang dirinya kepada kita. Ikuti perbincangan berikut ini. (more…)

May 25, 2007

Pendapat Seorang Tokoh Pendidikan Mengenai Ujian Nasional

Filed under: Bincang-bincang

iskandarwassid

Pada hari Kamis, 24 mei 2007, saya (Popon Saadah) berkesempatan berbincang-bincang dengan guru besar UPI Prof. Dr. Iskandarwassid, MPd. di Kantor SAI (Sektor Audit Internal) UPI Bandung.
Topik Perbincangan sengaja saya arahkan pada masalah yang sekarang sedang hangat-hangatnya dibicarakan, yaitu tentang UN (Ujian Nasional).
Iskandarwassid yang juga seorang sastrawan dan pernah mendapat hadiah sastra Rancage, berpendapat sebagai berikut.

Tanya: Bagaimana pendapat Bapak tentang UN?

Jawab: Menurut saya lebih baik tidak ada ujian nasional. Dalam hal ini pemerintah tidak konsisten dengan kebijakannya. Di satu sisi pemerintah ingin menjalankan desentralisasi dengan memberikan kewenangan kepada tiap daerah untuk melaksanakan kebijakan masing-masing, di sisi lain pemerintah masih ingin ikut campur dengan mengadakan test yang soalnya bersumber dari pusat. Kalau mau seperti itu, kenapa tidak kembali saja sepenuhnya ke jaman ketika semuanya diatur oleh pusat atau sentralistik.

T: Dalam bidang pendidikan, sistem mana yang lebih unggul, apakah sentralistik atau otonomi daerah seperti sekarang ini?

J: Kalau pelaksanaannya sesuai aturan dan konsisten, jelas lebih unggul sistem sekarang. Karena dengan adanya kewenangan tiap daerah untuk melaksanakan kebijakana masing-masing, akan muncul pula dampak positif. Seperti, bila seorang bupati di suatu daerah mempunyai banyak perhatian pada pendidikan masyarakatnya, tidak menutup kemungkinan akan terwujud peningkatan pendidikan yang pesat di daerah tersebut.

T: Dampak negatif adanya UN?

J : Salah satunya saja ya, bila UN masih dijadikan standar mutu pendidikan, pada akhirnya sekolah-sekolah di mana pun berada akan mempunyai pola pikir yang sama. Segala bentuk kegiatan belajar mengajar akan selalu mengarah pada UN, segala proses belajar mengajar di sekolah akan selalu berorientasi pada soal yang akan keluar pada ujian nasional. Materi pelajaran akan dikemas sedemikian rupa dan tujuannya hanya satu, yaitu supaya para siswa bisa menjawab soal-soal yang terdapat pada UN. Betul kan? Untuk apa mengajar dengan metode yang lain bila tidak bisa menjawab soal-soal UN? Nah bagaimana pendidikan kita bisa maju bila hal seperti ini terjadi?
(more…)

April 9, 2007

Wawancara Presiden Republik Islam Iran dengan Harian Der Spiegel Jerman

Filed under: Bincang-bincang

ngefans berat....!!!
Gambar: jaffet.com

Ket: MAN (Mahmoud Ahmadinejad), DS (Der Spiegel)

DS: Bapak Presiden yang mulia, seperti yang saya ketahui, anda penggemar olah raga sepak bola, bahkan menurut sebagian sumber, Anda pun bermain sepak bola. Anda tahu bahwa tangal 11 Juni tim nasional Iran akan melakukan pertandingan pertamanya di ajang piala dunia dengan dengan tim Mexico. Apakah anda akan hadir di stadion sebagai penonton?

MAN: Yang pasti saya akan nonton, tapi di mana? Hal itu tergantung pada…

DS: Pada apa?

MAN: Pada banyak hal.

DS: Misalnya?

MAN: Waktu, kesempatan, mood (suasana hati), dan beberapa hal lain.

DS: Saat diumumkan, bahwa Anda diduga akan datang ke Jerman untuk menyaksikan pertandingan dari dekat, sebagian kalangan protes. Apakah hal ini tidak terbayangkan sebelumnya?

MAN: Tidak, karena hal itu tidak penting. Sama sekali saya tidak memberikan perhatian pada masalah ini, sebab sumber protes dari mana belumlah jelas.

DS: Hal ini berhubungan erat dengan isu Holocaust, khususnya pertandingan akan diselenggarakan di Nuremberg. Sebuah kota yang memiliki hubungan sangat erat dengan Holocaust. Dan Anda sebagai presiden Iran yang mengangkat isu Holocaust melahirkan sejumlah protes.

MAN: Sampai saat ini saya belum memahami di mana letak hubungannya?

DS: Saat dikabarkan anda mungkin akan mengunjungi jerman untuk menonton pertandingan, maka mengingat program Anda dan isu Holocaust, ada sejumlah kalangan yang memprotes dan meminta kepada pemerintah Jerman agar tidak menyetujui kedatangan Anda. Apakah hal ini tidak mengherankan Anda?

MAN: Tidak, sebab kanal Zionisme di dunia memang progresif. Saya pun tahu bahwa di Eropa pun mereka sangat progrresif pula. Karena itulah saya tidak heran. Namun, perbincangan saya berkaitan dengan masyarakat Eropa. Kami sama sekali tidak punya urusan dengan Israel. (more…)

January 28, 2007

Ngobrol Asyik dengan Sang Ketua OSIS

Filed under: Bincang-bincang

Desty

Desty Hapsari Kirana adalah ketua OSIS SMPN 4 Cimahi periode 2006-2007. Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Remaja yang lahir pada 8 Januari 1992 ini mempunyai hobby baca novel. Tapi soal makanan, tak ada yang menjadi makanan favoritnya, “semua makanan saya suka,” katanya. Dan siswa kelas 3 SMP yang bercita-cita menjadi arsitek ini punya prestasi, semasa di SD selalu rangking I. Dalam bidang olahraga: ketika di SD pernah meraih juara I lomba lari 100 m (sprint) se-Kota Cimahi, dan di SMP meraih juara IV pada kejuaraan yang sama se-Kota Bandung.
Sekilas dia tak ada bedanya dengan siswa yang lain, penampilannya besahaja, dan riang gembira ala remaja. Tapi bila sudah ditanya soal jabatan yang masih disandangnya saat ini, pembicaraannya cukup serius, gamblang dan kritis. Biar lebih seru, ikutilah obrolan langsung saya (Popon Saadah) dengan Desty di bawah ini.

Tanya: Waktu ada pendaftaran calon ketua OSIS di sekolah kamu, kenapa kamu berminat mencalonkan diri?

Jawab: Dalam rangka latihan jadi pemimpin yang sebenarnya. Menurut Desty, kalau ingin jadi pemimpin suatu organisasi itu harus latihan dulu. Nah, jadi pemimpin OSIS itu sebagai latihan jadi pemimpin di masyarakat nanti.

T: Apa pengalaman kamu yang kamu anggap paling berkesan selama menjabat ketua OSIS?

J: Banyak lah. Kita bisa dikenal sama seluruh siswa, bisa dikenal sama guru-gurunya, (bisa populer, red.).

T: Terus, apa yang menjadi hambatan program kerja kamu?

J: Hambatannya ada pada para Pembina OSIS. Maksudnya, kalau Pembina OSIS-nya banyak melarang kegiatan-kegiatan yang sudah diprogram oleh OSIS, jelas kami nggak bisa berkembang. Selain itu, kalau pembinanya mengurangi atau memperkecil jumlah dana yang diberikan pada OSIS untuk berbagai kegiatan juga sangat menghambat. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M