Aku, Rasa, dan Logika

September 11, 2008

Manfaat Pesantren Kilat

Filed under: Forum Guru

Oleh Popon Saadah

Kegiatan pesantren kilat yang biasanya marak diadakan di setiap lembaga pendidikan formal pada berbagai jenjang pendidikan saat bulan Ramadhan, merupakan sebuah solusi. Solusi untuk lebih mendekatkan para siswa pada Islam yang selama ini hanya diperkenalkan oleh para guru agama di sekolah dengan sambil lalu. Sebab di bulan-bulan di luar Ramadhan jam pelajaran agama Islam hanya dua jam pelajaran, sama porsinya dengan pelajaran Seni Budaya dan pelajaran Bahasa Sunda. Dapat dibayangkan, dengan jam pelajaran yang begitu terbatas, bagaimana mungkin para siswa bisa lebih paham tentang agamanya, bagaimana mungkin mereka akan bisa memaknai kitab sucinya, serta apakah mereka akan sampai pada dapat mengaplikasikan pelajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari?

Dan kegiatan pesantrén kilat bak oase di tengah padang yang gersang, ibarat segelas air yang mampu menghilangkan rasa dahaga seorang pengembara yang kehausan di tengah perjalanan. Pesantren kilat, sebuah kegiatan yang di dalamnya begitu sarat makna dan manfaat.
Dengan mengikuti kegiatan pesantren kilat, para siswa seakan-akan diingatkan kembali, bahwa setiap muslim diwajibkan mengetahui lebih dalam tentang agama Islam, tidak bisa sambil lalu dan tidak cukup dengan hanya menelan berbagai teori seperti yang terdapat dalam kebanyakan buku teks pelajaran agama. Memeluk Islam itu adalah menjadikan agama rahmatan lil alamin ini pegangan hidup dengan keyakinan sepenuh hati. Memeluk Islam itu tidak cukup hanya bersifat seremonial belaka, serta perlu dikondisikan sedemikian rupa, sehingga terciptalah situasi yang kondusif ke arah pemahaman agama Islam yang sesungguhnya. (more…)

June 27, 2008

Guru Bahasa Sudah Seharusnya Menguasai Teknik Menulis

Filed under: Forum Guru

Oleh Popon Saadah

Ketika seseorang menyadari bahwa dia adalah seorang guru bahasa, pada saat itu harus sadar pula akan kewajibannya menguasai empat aspek ketrampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai oleh para guru bahasa, baik guru bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa internasional, maupun bahasa asing lainnya.
Seorang guru bahasa harus terampil menyimak semua yang dilisankan orang di luar dirinya, dan tahu ilmunya. Guru bahasa harus terampil berbicara di depan umum, di dalam forum, maupun bercakap-cakap dengan lawan bicaranya, karena faham ilmunya. Guru bahasa harus terampil membaca segala macam yang bisa dibaca, karena menguasai ilmunya. Guru bahasa harus terampil menulis, dalam hal ini menulis kreatif, juga dengan ilmunya.
Menulis kreatif adalah level paling sulit dari keempat aspek tersebut di atas, dan seorang guru bahasa wajib menguasainya. Idealnya seorang guru bahasa sudah bukan waktunya menghasilkan tulisan alakadarnya dan sekehendak hatinya sendiri dengan mengabaikan aturan yang berlaku. Sejatinya dia harus bisa melampaui karya-karya anak didiknya, dengan menghasilkan karya yang baik isi maupun bentuknya digarap dengan serius. Oleh karena itu seorang guru bahasa wajib menguasai teknik menulis kreatif.
Kegiatan yang sudah seharusnya menjadi kebiasaan guru bahasa adalah:
1. Tak kenal lelah mencari dan membaca referensi yang berhubungan dengan teori menulis. Dengan mempelajari teori menulis dia akan menghasilkan tulisan yang sesuai dengan rambu-rambunya serta terhindar dari berbagai macam kesalahan berbahasa.
Beruntung, sekarang buku-buku yang mengupas tentang bagaimana caranya agar kita menjadi penulis handal sangat berlimpah. Mulai dari buku yang tipis dan simpel isinya, sampai kepada buku yang isinya serba lengkap, saya kira tersedia di toko-toko buku. Tak ada salahnya, bahkan mungkin akan lebih baik kita berpedoman pada buku-buku tersebut sebagai panduan, agar tulisan kita sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama.
2. Membaca karya-karya bermutu, baik karya sastra, esay, maupun artikel. Dengan mempelajari dan mengapresiasi tulisan-tulisan yang berkualitas, sama artinya dengan mengasah keterampilan menulis kita.
3. Latihan menuangkan gagasan sesering mungkin, sehingga pikiran dan tangan kita akan terlatih secara otomatis dalam menuliskan ide-ide yang ingin segera kita tulis.
Bagaimana jadinya bila seorang guru bahasa tidak paham tentang keempat aspek berbahasa ini? Bagaimana jadinya bila seorang guru bahasa sama sekali tak tahu seluk beluk aturan menulis kreatif? Bagaimana bisa mengoreksi pekerjaan dan hasil karya siswa bila karyanya sendiri masih mentah dan terlalu banyak yang harus dikoreksi? Bagaimana bisa meningkatkan mutu dan potensi berbahasa para siswanya bila dia sendiri malas dan tidak berminat menggeluti bidang yang seharusnya dia kuasai?
Jangan berharap terlalu banyak pada anak didik, bila keadaan gurunya masih berkutat pada permasalahan yang sudah diuraikan di atas.

December 17, 2007

Sejauh Mana Manfaat Situs Pembelajaran untuk Siswa?

Filed under: Forum Guru

contoh

Oleh Popon Saadah*

Semaraknya situs atau website pendidikan dewasa ini, baik yang mencakup pendidikan umum maupun permata pelajaran, patut disambut dengan gembira. Hal ini menunjukkan adanya inovasi di bidang pendidikan, dan sejalan dengan berkembangnya model pembelajaran di Indonesia.
Situs-situs pembelajaran tersebut bisa digolongkan kepada model pembelajaran e-learning, yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa elektronika seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satelit atau komputer (Soekartawi, 2007: 25).
Pada awalnya model e-learning ditujukan untuk pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ). Tujuan dari penyelenggaraan e-learning untuk PJJ sangat jelas, yaitu untuk memudahkan para siswa mengakses pendidikan jarak jauh dari gurunya. Seiring dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, kini e-learning tidak hanya digunakan oleh mereka yang mempunyai masalah karena terpisahnya siswa dan guru oleh jarak yang jauh, tapi sudah mulai marak digunakan oleh para guru dan siswa yang setiap harinya selalu bertatap muka dan bersinggungan badan di dalam kelas.
Saya berpendapat, fenomena ini adalah sebuah kemajuan di bidang pendidikan. Melihat fenomena seperti itu, kita berharap pendidikan di Indonesia maju pesat secepat majunya teknologi komunikasi dan informasi. Tapi saya pun berpendapat, bahwa lebih baik kita jangan dulu silau oleh hal-hal yang berbau modern dan canggih. Sebelum mengaplikasikan sebuah media untuk pelaksanaan pembelajaran, kita harus berpikir jernih dan cermat, sejauh mana manfaat media itu untuk anak didik kita? Bila model pembelajaran beserta media yang kita gunakan itu memberi banyak manfaat untuk siswa dan gurunya, kita bisa menetapkan dan memilihnya sebagai model dan media yang akan selalu kita gunakan di setiap kegiatan belajar mengajar. Tapi apabila model beserta media tersebut kurang praktis, tidak efektif dan tidak efisien bila diterapkan di dalam proses belajar mengajar guru dan siswa, kenapa harus dipaksakan? (more…)

October 18, 2007

Bahasa Sunda

Filed under: Forum Guru

writing

Oleh Popon Saadah

Bila kebetulan kami para guru bahasa Sunda berkumpul atau bertemu di suatu tempat, selalu ada saja orang di luar profesi kami yang menganggap bahwa kami adalah guru yang mengajarkan pelajaran yang sulit dan klasik. Dan di antara mereka suka ada yang menghampiri serta ikut nimbrung percakapan kami. Anehnya pernyataan yang mereka ajukan kepada kami di mana pun dan kapan pun selalu sama. Pernyataan-pernyataan itu seperti berikut.
“Bahasa Sunda itu susah ya, anak-anak kami enggan menggunakannya karena takut salah menggunakan undak-usuk basa. Dalam mata pelajaran bahasa Sunda itu banyak istilah yang aneh, seperti ngaran-ngaran kekembangan dan ngaran-ngaran anak sasatoan. Dulu waktu kami masih sekolah di SD semua itu hapal di luar kepala. Wah sekarang sudah pada lupa tuh. Undak-usuk basa itu njelimet ya….saya benar-benar takut salah menggunakannya.”
Pernyataan itu selalu berulang ditujukan kepada kami di setiap kesempatan dari orang yang berbeda. Saya sebagai guru bahasa Sunda merasa bosan menanggapinya. Apa tak ada lagi pernyataan lain yang lebih menarik untuk direspon? (more…)

September 6, 2007

Dicari Kepala Sekolah yang Betah di Sekolah

Filed under: Forum Guru

tut wuri handayani

Kami para guru sebuah sekolah merindukan kepala sekolah yang:
1. Setiap hari selalu berada di tempat di mana dia bertugas.
2. Datang dan pulang dari tempat bertugas tepat waktu.
3. Mengetahui dan mengenal nama-nama berikut pribadi-pribadi bawahannya.
4. Selalu memonitor jalannya kegiatan belajar mengajar.
5. Tanggap terhadap kondisi baik dan buruk para bawahan beserta murid-muridnya.
6. Mengetahui betul hasil kerja dan prestasi bawahannya.
7. Mampu menampung keluh kesah bawahannya untuk kemudian membantu menemukan solusi dari setiap permasalahan.
8. Transparan dalam mengelola keuangan sekolah.
9. Menggunakan dana sekolah dengan hemat dan tepat sasaran.
10. Memperhatikan dan mampu meningkatkan kesejahteraan bawahan.
11. Mampu bersikap adil dalam melakukan tindakan apa pun kepada semua bawahan.
12. Bersikap objektif dalam menilai hasil kerja dan prestasi bawahan.
13. Mendukung program-program sekolah yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama.
14. Berprinsip teguh, tidak terpengaruh oleh hasutan para bawahan yang merangkap sebagai penjilat.
15. Berani mengambil keputusan sendiri, tidak berlindung di balik bawahan dan kaki tangannya yang hipokrit.
16. memiliki solidaritas dan rasa sosial yang tinggi.
17. Berwawasan luas dan tidak gagap teknologi.
18. Mau menerima saran dan kritik dari bawahannya.
19. Berani menegur setiap bawahan yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya dengan tidak pandang bulu.
20. Bertanggung jawab penuh terhadap maju mundurnya sekolah yang dipimpinnya.

Sangat disayangkan sampai saat ini masih sangat sulit menemukan kepala sekolah yang sesuai dengan harapan para guru. Masih banyak pimpinan yang hanya menuntut hak saja dari pada bertekad melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya.

March 7, 2007

Murid Kita adalah Anak Kita Juga

Filed under: Forum Guru

peserta didik

Oleh Popon Saadah

Sejak terbersit niat dalam hati kita ingin menjalani profesi guru, seharusnya terbersit pula niat untuk sepenuhnya menekuni profesi itu, serta mau dan rela berpayah-payah mendidik anak-anak, yang tentu saja bukan anak-anak kandung kita, tapi titipan para orang tua, yang pada hakikatnya adalah titipan Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu profesi guru berbeda dengan profesi-profesi yang bergelut di bidang lain. Profesi guru tidak boleh tidak harus berpijak pada idealisme, atau kalau pun hal itu terasa berat bagi seseorang, sisakanlah barang sedikit idealisme itu. Sebab bila unsur idealisme sudah terkikis serta luntur dalam diri seorang pendidik, lalu digantikan dengan egoisme, akan menimbulkan masalah. Dan bila masalah tersebut tidak segera diatasi, pertanda akan bermunculan masalah-masalah baru sebagai penyebaran dari induk masalah tadi. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M