Aku, Rasa, dan Logika

November 7, 2008

Sepuluh Perkara yang Sia-sia dan Tidak Bermanfaat

Filed under: Sejenak Merenung

1. Ilmu yang tidak diamalkan;
2. Amal yang tidak disertai keiklasan dan mencontoh Nabi Muhammad SAW;
3. Harta yang tidak disedekahkan, sehingga pemiliknya tidak bisa menikmatinya di dunia dan tidak pula dipergunakan sebagai bekal di akhirat;
4. Hati yang kosong dari cinta kepada Allah, dari rasa rindu dan dekat dengan-Nya;
5. Tubuh yang tidak difungsikan untuk melaksanakan ketaatan beribadah kepada Allah;
6. Cinta kepada Allah, tetapi tidak diikat dengan keridhaan-Nya dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya;
7. Waktu yang tidak difungsikan untuk mengejar ketertinggalan atau meraih kebaikan dan ibadah;
8. Pikiran yang melayang-layang pada hal-hal yang tidak berguna;
9. Berbakti kepada seseorang yang dengan baktinya tersebut tidak akan mendekatkanmu kepada Allah dan tidak pula bermanfaat bagi duniamu;
10. Rasa takut dan harapmu kepada mahluk yang ubun-ubunnya di tangan Allah, sebagai tawanan dalam genggaman-Nya, yang dia sendiri tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi dirinya dan tidak pula menolak kemudharatan (bahaya) atasnya, serta tidak menguasai kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi dirinya.

(AL-Fawaid Halaman 112)

April 22, 2008

Not Me, Boss!!

Filed under: Sejenak Merenung

martini

Cerita kiriman dari seorang teman.

Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua NewGuinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidakpernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.
Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.
Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.
Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!
Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut “Not me, Boss! Selama
ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!”

Moral kisah :

Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

September 24, 2007

Setetes Embun

Filed under: Sejenak Merenung

alam semesta

September 23, 2007

Si Pohon Serbaguna

Filed under: Sejenak Merenung

pohon kelapa

Oleh Popon Saadah

Mahasuci Allah yang telah menciptakan alam dunia beserta isinya. Dan Mahasuci Allah yang telah menciptakan semua mahluk berikut kegunaannya. Sesungguhnya pada setiap ciptaan-Nya terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Dari sekian banyak mahluk ciptaan-Nya, kita ambil salah satunya saja sebagai misil dan contoh untuk hidup kita.
Mari kita berbicara tentang pohon kelapa. Bila kita perhatikan dan pikirkan, jenis pohon yang satu ini sangat banyak kegunaannya:
batang pohonnya bisa digunakan untuk bahan bangunan. Pucuk daunnya biasa digunakan untuk membuat rangkaian janur yang indah, atau membungkus ketupat. Daunnya yang sudah tua bisa digunakan untuk atap rumah atau kisa (barang anyaman tempat menyimpan ayam bila si ayam dibawa bepergian). Tulang daunna dibuat lidi, dijadikan sapu lidi. Lalu jangan tanya tentang buahnya, itu sudah jelas kegunaan dan kelezatannya. Buahnya yang masih muda oleh orang Sunda biasa disebut dawengan, dimakan langsung, dibikin rujak atau dijadikan makanan campuran sirop. Buahnya yang sudah tua bisa dibuat minyak. Air santannya digunakan untuk campuran berbagai olahan. Ampas buah kelapa adalah bahan dasar makanan yang disebut dage. Masa kini, air kelapa bisa diolah menjadi coco, sejenis makanan campuran sirop. Coco ini sekarang mudah didapat, tersebar di berbagai toko makanan.
Kulit kelapa bagian luar (tapas) bisa dibuat kesed, dengan cara dianyam. Batoknya bisa dibikin arang atau barang kerajinan. Konon akarnya pun bisa dibikin obat.
Tumbuhan seperti pohon kelapa saja bisa multiguna, bagaimana dengan kita, mahluk yang mulia dan diberi akal budi oleh Sang Khalik? Sudah selayaknya sebagai mahluk yang berbudaya, manusia pun bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya. Di mana kita berada, di situlah kita bermultiguna (idealnya)!

April 6, 2007

Pemimpin yang Layak Diidolakan

Filed under: Sejenak Merenung

idolaku
Gambar: www.lastingnews.com

“Bila nuklir itu berbahaya, mengapa ada pihak yang dibiarkan menggunakannya? Bila nuklir itu berguna, mengapa ada pihak yang tidak diperbolehkan menggunakannya?

April 3, 2007

Puisi Kahlil Gibran

Filed under: Sejenak Merenung

ibu & anak

Tentang Anak

Dan seorang ibu yang sedang menimang anaknya berkata,
Bicaralah pada kami tentang anak-anak

Lelaki itu pun berkata,
Anak-anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan
Yang mendambakan kahidupannya sendiri
Mereka datang melalui kamu tapi tidak darimu
Dan meskipun mereka bersama kamu namun bukanlah milikmu
Kamu bisa memberi cintamu namun tidak kehendakmu
Kamu bisa memberi rumah bagi raga mereka
Namun tidak bagi jiwa mereka
Karena jiwa mereka ada di masa depan
Yang tidak bisa kamu capai meskipun dalam mimpi
Kamu bisa mengikuti dunia mereka
Tapi jangan harap mereka bisa mengikuti duniamu
Karena dunia ini tidaklah mundur dan tidak pula terhenti

Kamu ibarat busur
Dan anak-anakmu meluncur seperti anak panah
Sang Pemanah membidik seseorang yang sangat jauh
Lalu Dia melenturkan busur itu dengan kekuatan-Nya
Agar anak panah bisa melesat cepat mencapai sasaran
Meninggalkan busur yang tetap berada di genggaman
Sang Pemanah bangga kepada anak panah yang meluncur itu
Begitu juga kepada busur yang tetap pada kodratnya (more…)

October 20, 2006

Sepenggal Do’a

Filed under: Sejenak Merenung

do\'a

do\'a

keterangan






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M